ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar pertengahan tahun 2010 ketika aku masih kuliah semester 7
Malam ini adalah untuk pertama kalinya aku menjelajah alam astral bersama Pendik , selama ini ia memang terus menerus berlatih menyempurnakan tekniknya secara trial and error , alhasil ia berhasil juga mengeluarkan sukmanya walaupun membutuhkan waktu agak lama , sementara Zul dan Niken yang telah patah arang memutuskan untuk berhenti latihan dan beralih ke lucid dream.
Steve : " aku pegangin dulu mas "
Pendik : " oyi stiv , uenteng rasane "
Me : " koyok kapuk yo ? "
(kayak kapas ya ?)
Apa yang dirasakan Pendik saat ini sama saja dengan apa yang kurasakan saat pertama kali aku berhasil mengeluarkan sukmaku dulu , ia sama sekali tak punya daya dan kontrol terhadap sukmanya yang melayang layang bagaikan sejumput kapas... hal ini hanyalah persoalan waktu saja karena sukmanya belum beradaptasi dengan kondisi alam astral yang bebas gravitasi.
Pendik : " yok opo ki ?!... gak iso obah aku vig ?! "
(gimana ini ?!... gak bisa gerak aku vig ?!)
Me : " ha.. ha.. lha ancen gurung iso kon "
(ha.. ha.. lha emang belum bisa kamu)
Steve yang memegangi tangan kanan Pendik mengajak untuk terbang setinggi tingginya hingga menembusi gumpalan awan , kini kami bertiga melayang ratusan meter di atas daerah Tlogomas dan pemandangan yang tersaji dari ketinggian ini membuat Pendik tak henti hentinya merasa takjub.
Pendik : " koyok numpak kapal mabur awake dhewe "
(kayak naik pesawat terbang kita)
Me : " ha.. ha.. "
Steve : " kita enaknya kemana mas ? "
Me : " santai ae stiv , jalan jalan bebas "
Steve : " oke mas "
Kami tak ingin kemana mana , yang kami lakukan hanyalah terbang santai sesuka hati dan tanpa tujuan sama sekali.... dari daerah Tlogomas perlahan kami melayang hingga mencapai jl Veteran , dari ketinggian ini dapat terlihat komplek kampus Brawijaya yang tampak luas dan berkelap kelip karena dipasangi lampu hias buat agustusan.
Pendik : " wancik vig ?!... kampus ub disawang soko ndukur uapik yo "
(wancik vig ?!... kampus ub dilihat dari atas kueren yo)
Me : " lampune ndek bunderan tugu kelap kelip yo ndik "
Steve : " kita kemana lagi mas ? "
Me : " penake miber nang endi iki ndik ? "
(enaknya terbang kemana ini ndik ?)
Pendik : " sakarep wes vig , manut ayas "
(terserah wes vig , manut aku)
Dari kampus UB kami bertiga terus terbang ke arah selatan , kini di bawah kami adalah komplek kampus UM yang pemandangannya serupa dengan kampus UB tadi , kelap kelip lampu hias memenuhi beberapa area sehingga tampak terang benderang.
Steve : " kemana lagi mas ? "
Me : " yang asik mana stiv ? "
Steve : " hmm.... aku pikirin dulu mas "
Sejenak Steve terdiam sambil memikirkan tujuan berikutnya , hingga akhirnya ia berniat mengajak kami menuju lokasi lumpur Lapindo yang berada di kota Sidoarjo.
Me : " ngapain kita ke sono ? "
Steve : " aku mau kasih liat makhluk yang ada di sana mas "
Me : " siluman ?!.. kampung jin ?! "
Steve : " bukan , ntar lihat sendiri aja mas "
Pendik : " itu di porong stiv , kejauhan jaraknya "
Steve : " gampang mas , pokoknya tinggal ngikut aku aja "
Pendik : " yo wes terserah umak , manut ae ayas "
Kini kedua tangan Steve telah memegangi tanganku dan juga tangannya Pendik , tiba tiba saja " wuuzz !! " kami bertiga langsung melesat dengan kecepatan sangat tinggi sementara keadaan sekeliling tampak kabur , sebelum akhirnya kami berhenti dan menyadari bahwa kami telah tiba di lokasi tujuan yang tampak cukup gelap.
Pendik : " iiki ?!?.. iiki lumpur lapindo vig ?! "
Me : " kethoke iyo ndik "
(kayaknya iya ndik)
Steve : " kita udah nyampe porong mas "
Pendik : " kok iso cepet banget stiv ?! "
Steve : " ha.. ha.. kalo naek bis bisa 2 jam lebih ya mas "
Me : " ojok nggumun kon "
(jangan heran lu)
Raut muka Pendik tampak masih terheran heran , ia kebingungan sendiri kenapa bisa secepat ini kami tiba di daerah Porong Sidoarjo.... memang beginilah realitas di alam astral , sejauh apapun jarak tempuh bukan lagi menjadi suatu masalah.
Pendik : " wancik vig ?!... uombo banget seng klelepan lumpur ?! "
(wancik vig ?!... luas banget yang kelelep lumpur ?!)
Me : " biasane mek nontok ndek tipi yo ndik "
(biasanya cuma nonton di tv ya ndik)
Sukma kami bertiga melayang layang ratusan meter di atas lokasi genangan lumpur Lapindo yang ternyata sangat luas sekali , bahkan saking luasnya tampak seperti sebuah telaga saat kami memandanginya dari ketinggian ini.
Steve : " ini banyak banget lho kecamatan yang tenggelam mas "
Me : " gw tau stiv "
Sulit untuk membayangkan berapa banyak warga yang harus kehilangan tempat tinggalnya karena kampungnya tergenang lumpur seperti ini , parahnya lagi hingga detik ini semburan lumpur masih belum berhenti... dari atas sini kami bisa melihat beberapa titik yang permukaan lumpurnya tampak seperti air mendidih , bisa dipastikan titik titik itu adalah lokasi semburan lumpur yang konon berasal dari dasar bumi.
Me : " katanya ada makhluknya ?!.. mana stiv ?! "
Steve : " kita terbangnya ketinggian , ayo kita turun agak dekat mas ! "
Perlahan sukma kami mulai turun dari ketinggian ratusan meter dan sekilas kuamati keadaan jalan raya Porong yang berada tepat di sebelah genangan lumpur , jalan raya penghubung Surabaya - Malang - Pasuruan itu masih tampak ramai oleh lalu lalang truk tronton , truk tangki dan juga beberapa bus , selain itu juga tampak warung warung yang berjejeran di tepi jalan.
Steve : " lihat bawah sana mas ! "
Me : " apaan stiv ?! "
Steve : " perhatiin yang gerak gerak itu ! "
Kini sukma kami melayang semakin dekat dengan genangan lumpur , ketika kulihat ke bawah tampak ratusan benda benda putih yang bergerak gerak lambat... sekilas mirip dengan ceceran nasi yang bertebaran namun bisa bergerak.
Pendik : " apa itu stiv ?! "
Me : " pocong stiv ?! "
Steve : " bukan mas , ayo turun lagi biar lebih jelas ! "
Semakin dekat jarak kami dengan genangan lumpur semakin jelas pula kami dapat melihat benda benda keputihan yang terus bergerak gerak itu , dan ternyata itu adalah ulat ulat larva seukuran guling.
Pendik : " wancik stiv ?!?.. iitu ulat apa ?! "
Steve : " itu ulat gaib dari dasar bumi , keluarnya bareng sama semburan lumpur mas "
Pendik : " jek tas ngerti aku vig onok uler guedi gedi koyok ngono iku "
(baru tau ini aku vig ada ulat buesar besar kayak gitu)
Me : " podo ndik , nggilani "
(sama ndik , menjijikkan)
Saat ini sukma kami melayang cukup dekat dengan genangan lumpur , apa yang terlihat di bawah sungguh sangat menjijikkan..... bagaimana tidak jijik jika ada ratusan ulat larva berukuran besar yang memenuhi hampir seluruh area genangan lumpur , beberapa bahkan merayap di atas atap rumah yang menyembul dari genangan lumpur.
Me : " ulat itu asalnya dari dasar bumi ya stiv ? "
Steve : " bener mas , ikut keluar gara gara semburan lumpur "
Me : " berarti di dalem tanah masih banyak dong ? "
Steve : " pastinya banyak banget , mungkin ada jutaan mas "
Makhluk di alam astral ternyata sangat beragam jenisnya , sebelumnya aku sudah melihat belasan naga di waduk Karang Kates dan kini aku melihat ratusan ulat berwarna putih yang konon berasal dari dasar bumi... aku hanya bisa terpana melihat makhluk makhluk menjijikkan itu , apalagi ukuran tubuhnya yang besar membuatku kian jijik saja melihatnya.
Steve : " ulat ulat itu bahaya mas kalo kena manusia "
Me : " bisa nggigit ?!.. tapi kan itu ulat astral stiv ?! "
Steve : " ulat itu bisa nempelin manusia trus nyedot energinya "
Me : " nyedot energi ?! "
Steve : " semacam parasit gitu , soalnya temenku yang kuliah di unair pernah ketempelan pas abis dari sini... makanya aku jadi tau "
Me : " nempel tapi ngga ngerasain kalo lagi ditempelin ?! "
Steve : " bener mas , ulatnya nempel di punggung trus mulutnya ngisep ubun ubun "
Me : " ngisep ubun ubun ?! "
Steve : " ubun ubun itu jalur nadi sumsumna mas , semua chakra bakalan kena semua "
Me : " kalo chakranya kena jadi kotor stiv ?! "
Steve : " kotor semua sampe auranya jadi item , akhirnya orang yang ketempelan bakal kena penyakit macem macem , emosi ngga stabil , ngerasa capek terus.... lama lama bisa mati "
Pendik : " bahaya itu stiv kalo ulatnya naik sampe ke jalan trus nempelin orang "
Steve : " makanya aku sering ke sini buat musnahin ulat ulat itu mas "
Pendik : " tapi ulatnya kok masih banyak ?! "
Steve : " soalnya muncul terus kebawa semburan lumpur mas , jadi abis aku musnahin ya tetep ada lagi "
Mendengar apa yang dikatakan Steve membuatku merasa agak ngeri , sulit untuk membayangkan jika ulat ulat menjijikkan itu menempeli badan manusia , bisa dipastikan akan membawa dampak teramat buruk yang mungkin takkan pernah disadari apa sebabnya karena ulat ulat itu tak kasat mata.... ironisnya lagi populasi ulat ulat itu tampak terlalu sulit untuk dibendung karena semburan lumpur masih belum berhenti.
Kami bertiga masih melayang layang belasan meter di atas genangan lumpur sementara Steve bersiap melakukan prosesi pemusnahan ulat ulat itu , hal ini sebenarnya percuma saja karena setelah dimusnahkan ratusan ulat ulat lain yang masih berada di dalam bumi akan naik ke daratan juga.
Steve : " mas vig , pegangin tangannya mas pendik ! "
Me : " oke "
Kini tangan kiri si Pendik telah kupegangi sementara Steve mulai menjulurkan kedua telapak tangannya ke arah bawah , tak lama kemudian kobaran api tampak menyala nyala dimana mana... ternyata ulat ulat itu langsung terbakar dan terus menggelepar kesakitan.
Pendik : " bisa kebakar stiv ulatnya ?! "
Steve : " itu cara musnahinnya mas "
Me : " tapi ulatnya masih ada banyak stiv "
Steve : " iya , abis ini pindah tempat mas "
Kuhitung jumlah ulat yang terbakar di bawah kami tak lebih dari 20 ekor saja , sementara di sekeliling kami masih ada ratusan ulat ulat lain yang rasanya terlalu mustahil untuk dimusnahkan Steve seorang diri.
Me : " kayaknya ngga ada gunanya stiv "
Steve : " paling ngga bisa ngurangin dikit mas "
Meskipun hanya sedikit mengurangi populasi ulat ulat itu namun Steve tak berhenti untuk melakukan pemusnahan , berikutnya kami terbang berpindah pindah tempat hingga 4 kali dan hasilnya makin banyak ulat ulat yang mati terbakar , mungkin sekitar 100 ekor lebih.
Pendik : " isek uakeh vig ulere , yok opo iku ?! "
(masih buanyak vig ulatnya , yok opo iku ?!)
Me : " lu masih kuat stiv ?! "
Steve : " udah cukup mas , biasanya aku cuma segini doang kalo musnahin "
Kobaran api tampak menyala nyala di beberapa titik dan membuat keadaan jadi agak terang , beberapa orang di jalan raya bahkan saling berkerumun menyaksikan kobaran api di genangan lumpur itu... sepertinya mereka terheran heran dan tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Steve : " kalo semburan lumpurnya gak brenti ulatnya bakal naik terus mas "
Me : " itu masalahnya stiv , salahnya lapindo tuh "
Pendik : " ngene iki trus yok opo akhire vig ?! "
(gini ini trus gimana akhirnya vig ?!)
Me : " babah ndik "
(entahlah ndik)
Memang bencana lumpur ini benar benar membawa malapetaka luar biasa baik secara fisik maupun non fisik , ironisnya hingga detik ini tak ada solusi atau tindakan apapun untuk mengatasinya... kurasa hanya Tuhan saja yang tahu kapan malapetaka lumpur Lapindo ini akan berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar