ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar pertengahan tahun 2009 ketika aku masih kuliah semester 4
Lembaran uang kertas mainan tampak berserakan di atas amben bambu yang kami duduki ini , sementara 2 buah dadu terus bergulir dan membuat permainan monopoli ini kian mengasikkan , bahkan saking asiknya tak satupun dari kami yang menyadari bahwa malam telah beranjak semakin larut.
Pendik : " ewul rekk "
(laper rekk)
Zul : " lama amat si eko beli nasi gorengnya "
Me : " tungguin aja zul "
Pendik : " tuku oges gorenge ndek planet namek arek iku vig , suwe selak ewul iki "
(beli nasi gorengnya di planet namek anak itu vig , lama keburu laper nih)
Nyaris 1 jam kami menunggu si Eko balik membeli nasi goreng di dekat swalayan Sardo , namun hingga kini ia belum juga kembali dan kami semua terpaksa menahan lapar.
Me : " iki sido gak uji nyaline ndik ? "
(ini jadi ngga uji nyalinya ndik ?)
Pendik : " sakjane aku yo rodok wedi vig , tapi gak penak ambek eko "
(sebenernya aku juga agak takut vig , tapi gak enak sama eko)
Malam ini kami bertiga memang sengaja datang ke kosannya Eko yang berada di gang 1 jl Gajayana ini , ia bersikeras mengajak kami beruji nyali di komplek pemakaman yang letaknya tak jauh dari sini... konon ada isu yang beredar di kalangan warga sekitar dan cukup membuat kami penasaran juga , isu itu tentang penampakan sosok hantu pocong yang kerap dijumpai warga di sekitar komplek pemakaman saat tengah malam.
Zul : " kalo steve ikutan aku ngga kuatir vig "
Me : " kan lagi banyak tugas dia zul , mau gimana lagi ? "
Sejujurnya tanpa keikut sertaan Steve kami semua merasa gamang melakukan uji nyali ini , mau mengajak Bang Renggo juga tak bisa karena ia tengah sibuk merampungkan skripsinya.... kini kami benar benar mencoba untuk menguatkan nyali tanpa bergantung pada siapapun.
Pendik : " lha iku suoro montore eko vig , wes teko areke "
(lha itu suara motornya eko vig , udah dateng anaknya)
Me : " yo wes , mari ngene ndang nakam gek ladub ndik "
(ya udah , abis ini cepetan makan trus berangkat ndik)
Suara deru motor si Eko telah terdengar dari teras depan , tak lama kemudian ia telah tiba di hadapan kami sambil membawa bungkusan kresek berisi nasi goreng.
Eko : " sorry mas kelamaan "
Zul : " ngapain aja tadi ko ? "
Eko : " ban motornya bocor mas , mesti nembel dulu tadi "
Me : " yo wes kita makan dulu ko , udah laper banget ini "
Eko : " oyi mas "
Tanpa buang waktu kami segera menyudahi permainan monopoli yang kami mainkan ini lalu buru buru kami melahap nasi goreng yang dibawa si Eko , tak butuh waktu lama acara makanpun kelar dan kami telah siap untuk berangkat menuju komplek pemakaman.
Me : " ayo ladub saiki ndik , selak ngantuk "
(ayo berangkat sekarang ndik , keburu ngantuk)
Pendik : " oyi vig , wes jam setengah siji iki "
Eko : " kita jalan lewat belakang aja mas "
Kami mulai bergegas meninggalkan kosan si Eko ini dengan melewati pintu belakang yang ada di pekarangan , tembusannya langsung berada di area tegalan yang cukup gelap dan dipenuhi pepohonan pisang... setelah berjalan sebentar akhirnya di hadapan kami telah terlihat gerbang komplek pemakaman yang kami tuju.
Zul : " ternyata deket banget sama kosanmu ko "
Me : " trus lu ngga pernah dihantuin di kosan ko ? "
Eko : " ngga pernah mas , jangan sampe deh "
Kini kami berempat telah tiba di depan gerbang kuburan ini , suasananya tampak cukup remang karena hanya diterangi oleh sebuah lampu neon saja.
Zul : " ndik , senternya keluarin ! "
Pendik : " oyi zul "
Dengan cekatan si Pendik mulai mengeluarkan 2 buah senter dari ranselnya dan kemudian ia menyalakan 2 batang hio yang baunya langsung menyengat hidung kami , tak lupa ia juga memutar infrasoundnya sebagai sarana pemanggil makhluk gaib.
Me : " ko , pegangin hionya ! "
Eko : " iya mas , aku di belakang aja ya "
Me : " ayo masuk sekarang ! "
Pendik : " ayo aku ngarep ae ambek kon "
(ayo aku depan aja sama kamu)
Eko : " bismillahirahman nirrahim "
Rasa gamang langsung menyergap ketika kami melangkahkan kaki memasuki komplek pemakaman ini , apalagi saat kami mendapati 2 buah keranda mayat yang teronggok di balik gerbang.
Zul : " ada keranda mayat vig "
Pendik : " koyok critomu ndek jembatan sengkaling vig , ngeri rek "
(kayak ceritamu di jembatan sengkaling vig , ngeri rek)
Me : " gak nok mayite lapo wedi ndik , wes ayo mlaku ! "
(gak ada mayatnya ngapain takut ndik , udah ayo jalan !)
Kami abaikan keberadaan keranda mayat itu lalu kami mulai berjalan melewati jalan cor beton yang membelah komplek pemakaman ini , sementara di kiri kanan kami tampak ratusan nisan dan kijing yang saling berjejeran , begitu juga pepohonan kamboja lebat yang membuat suasana terlihat menyeramkan.
Pendik : " lungguh ndek endi iki vig ? "
(duduk di mana ini vig ?)
Me : " ndek tengah ae ndik "
(di tengah aja ndik)
Kami memutuskan untuk duduk di tengah tengah komplek kuburan yang begitu luas ini , dari sini kami dapat mengawasi segala penjuru dengan leluasa.
Eko : " hionya aku tancepin tanah ya mas ? "
Me : " wo iyo ko "
2 batang hio yang dibawa si Eko telah tertancap di tanah yang berada di kiri kanan jalan cor beton ini , kini sambil duduk bersila kami mengarahkan sorotan senter ke segala arah.
Zul : " gak ada apa apanya ko "
Eko : " kita kan baru datang mas "
Me : " tungguin agak lama lagi zul "
Hawa udara yang begitu dingin membuat kami cukup menggigil duduk di sini , kurasa lebih baik ngerokok dulu biar badan jadi agak anget.
Me : " rokokan sek rekk , uadem howone "
(ngerokok dulu rekk , duingin hawanya)
Pendik : " santai ae yo vig , uji nyali disambi rokokan kebal kebul "
(santai aja ya vig , uji nyali disambi ngerokok kebal kebul)
Zul : " aku minta rokokmu ndik , bosen ngerokok mild terus "
Eko : " kalo aku ngga ngerokok deh mas "
Perasaan kami mulai agak santai seiring hembusan asap rokok yang keluar dari mulut , sementara tangan kami yang memegang senter terus menyoroti segala penjuru komplek pemakaman ini , namun tak ada apapun yang kami dapati selain beberapa ekor kelelawar yang beterbangan di antara pepohonan kamboja.
Pendik : " lowo thok vig "
(kelelawar doang vig)
Me : " koncomu iku "
(temenmu itu)
Pendik : " wancik kon "
Lama lama bosen juga kalau cuma duduk di sini , mau kelilingpun rasanya juga males , akhirnya kuputuskan untuk memutar lagu saja buat hiburan " mandi kembang tengah malam jangan kau lakukan kalau hanya mengharap maaf dariku " sebuah lagu dangdut dari Caca Handika kini mengalun nyaring dari speaker ponselku dan seketika memecah kesunyian malam.
Me : " ben gak ngantuk ndik "
(biar gak ngantuk ndik)
Pendik : " penak iku vig lagune "
(enak ini vig lagunya)
Zul : " kalau disetelin dangdut ntar gak mau nongol demitnya vig "
Me : " ahh sapa tau pocongnya doyan dangdut zul.. ha.. ha.. "
Eko : " ha.. ha.. goyang mang "
Tak terasa malam telah beranjak kian larut dan kini sudah nyaris jam 1 dini hari , dengan terkantuk kantuk kami mendengarkan lagu dangdut sambil mengamati keadaan namun tetap saja tak ada penampakan apapun.
Eko : " waduh mas aku kebelet pipis nih "
Me : " sama ko , kita pipis dimana nih ? "
Eko : " waduh dimana ya enaknya ? "
Zul : " ditahan aja ko pipisnya "
Eko : " ngga kuat ngempet mas "
Emang sial di saat seperti ini aku dan si Eko malah kebelet pipis , kini kami celingukan mencari cari spot yang sekiranya aman buat pipis.
Me : " deket pohon itu aja ko "
Eko : " ayo mas kalo gitu ! "
Pendik : " ati ati vig , ojok kenek kuburane uwong yo nek ngguyuh "
(ati ati vig , jangan kena kuburannya orang ya kalo pipis)
Zul : " ha.. ha.. bisa kualat ntar kalo ngencingin kuburan "
Dengan tergesa aku dan si Eko berjalan menuju pohon kamboja yang tak jauh dari tempat kami duduk , tanpa buang waktu kami berdua langsung pipis bareng " cuuuurrr !! " air kencing kamipun membasahi batang pohon ini.
Eko : " ayo mas cepetan ! "
Me : " bentar tungguin ko "
Buru buru kuselesaikan urusan buang air kecil ini dan untung saja tak terjadi apa apa hingga akhirnya kami balik lagi ke tempat semula.
Zul : " gak kena kuburan kan kencingnya vig ? "
Me : " ngga , pas kena pohon zul "
Eko : " aman pokoknya mas "
Zul : " ya udah duduk lagi deh "
Kini aku dan Eko kembali duduk bersama Zul dan Pendik , sementara lagu lagu dangdut masih mengalun dari speaker ponselku " kalau hanya untuk mengejar laki laki lain buat apa sih tuak manis kau suguhkan untuk dirikuuu.. " semakin lama aku malah merasa semakin ngantuk gara gara mendengarkan lagunya Meggy Z ini.
Me : " tak ganti radio ya ndik lagune ? "
Pendik : " yo wes vig , kosmonita fm lagune slow iki "
Me : " oyi "
Karena merasa bosan mendengarkan lagu lagu dangdut akhirnya kumatikan pemutar musik dan kuganti dengan radio , namun hal aneh terjadi ketika aku berusaha mencari cari channel radio , tak ada apapun yang terdengar selain bunyi gemerisik.
Me : " loh kok gak nok ndik lagune ?! "
(loh kok gak ada ndik lagunya ?!)
Pendik : " seng liyane wes kok jajal a vig ? "
(yang lainnya udah kamu coba tha vig ?)
Me : " uwes kabeh , kemrosok thok suorone "
(udah semua , gemerisik doang suaranya)
Zul : " kosmonita kan 24 jam ya vig , makobu juga "
Eko : " m fm udah dicoba juga mas ? "
Me : " udah ko , gak ada apa apanya "
Beberapa channel radio yang on air 24 jam telah kucoba satu persatu namun tetap saja tak ada hasilnya sama sekali selain bunyi gemerisik , kami mulai merasa bahwa keanehan ini terjadi karena interfensi dari makhluk gaib yang mungkin ada di area pemakaman ini.
Pendik : " pasti ada makhluk gaib di sekitar sini zul , gelombang radionya jadi putus gini "
Zul : " kok bisa ya ndik ? "
Kecurigaan kami ternyata tepat karena tak lama kemudian terdengar suara geraman dari speaker ponselku " ggrrrrr !!!.... ggggrrrr !!!... " seketika kami terkaget dan terheran heran mendengarnya.
Me : " loh ndik suoro opo iki ?! "
Pendik : " waduh vig , njajal gantinen maneh channel radione "
(waduh vig , coba ganti lagi channel radionya)
Dengan terburu kuganti channel radio berkali kali namun tetap saja suara geraman itu terdengar , bahkan kali ini lebih nyaring daripada sebelumnya " ggrrr !!!.... gggrrrr !!!.... " kami benar benar bingung dengan keanehan ini.
Eko : " waduh mas kok bisa gitu ya ?! "
Me : " bener nih pasti suaranya makhluk gaib ko "
Pendik : " wes patenono ae radione vig ! "
(udah matiin aja radionya vig !)
Tanpa berlama lama lagi langsung kumatikan radio di ponselku ini , namun kami malah merasa semakin bingung karena suara geraman itu masih terdengar beberapa kali " ggrrr !!!.... gggrrrr !!!.... " sesaat kami saling pandang penuh keheranan , rasanya suara geraman itu terdengar tidak jauh dari tempat kami duduk ini.
Zul : " kok kayak di deket sini suaranya ya ? "
Eko : " waduh mas jangan jangan emang ada di deket sini ?! "
Pendik : " goleki vig ! "
Me : " zul , ayo kita senterin lagi ! "
Lekas saja aku dan Zul berdiri sambil menyenteri keadaan sekeliling , sebelum akhirnya sorotan senter kami tertuju pada pohon kamboja bekas pipis tadi " gggrrrr !!!... ggrrr !!!.... " sepertinya suara geraman itu terdengar dari sana dan benar saja , di atas dahan terlihat sosok keputih putihan yang berdiri mematung menghadap kami " oh my goood ?!?.. " tak salah lagi sosok itu adalah pocong.
Dengan tangan gemetaran aku dan Zul memegangi senter dan terus menyoroti sosok pocong yang berdiri di atas dahan itu , dari jarak sekitar 8 meteran kami dapat melihat wujudnya dengan cukup jelas..... kain kafan yang dikenakannya terlihat kusam , kedua matanya tampak terpejam rapat , sementara lubang hidungnya dijejali oleh kapas , satu satunya yang terbuka hanyalah mulutnya saja dan " gggrrr !!!... gggrrr !!!!!... " geraman itu terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya dan seketika membuat nyali kami menciut.
Zul : " ggimana ini vig ?!? "
Me : " kkita kabur sekarang ya ?! "
Pendik : " aayo vig , ngko nek kesurupan gak nok seng iso nulungi "
(aayo vig , ntar kalo kesurupan gak ada yang bisa nolongin)
Eko : " aayo mas kabur sekarang !! "
Tanpa berlama lama lagi kami langsung mengambil langkah seribu , dengan tunggang langgang kami berlari meninggalkan komplek pemakaman secepat yang kami bisa.
Eko : " kita langsung lari ke kosan !! "
Zul : " bentar , aku capek.. hah !.. hah !.. "
Tiba di depan gerbang kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang terengah engah , namun secara mengejutkan terdengar bunyi berisik dari balik gerbang ini " klotak !... klotak !... klotak !... " dengan sedikit nyali yang tersisa kami memberanikan diri melongok ke balik gerbang , ternyata 2 buah keranda mayat yang terbuat dari besi itu sedang berguncang guncang hebat " klotak !... klotak !... klotak !... " yang lebih mengerikan adalah saat kami mendapati 2 sosok pocong yang terbujur di dalam keranda itu dan terus bergerak gerak seolah ingin berontak keluar dari dalam keranda.
Eko : " wwaduh mas ?!?... kkok ada pocongnya juga ?! "
Zul : " ?!? "
Pendik : " wanciik ?!.. yok opo iki vig ?!.. "
Me : " ?!? "
Sesaat kami terpana menyaksikan 2 keranda besi yang terus berguncang guncang itu , rasa heran bercampur ngeri benar benar menyergap kami semua hingga terdiam selama beberapa detik di sini.
Eko : " aayo mas kita balik sekarang !! "
Zul : " iiya ko , aayo !!! "
Tak ingin hal buruk terjadi segera saja kami mengerahkan sisa tenaga untuk kabur secepatnya , sesampainya di kosan kami benar benar kehabisan tenaga dan langsung rebah di lantai kamar dengan nafas yang terengah engah " hah !... hah !... hah !... " kucuran keringatpun tampak deras membanjiri muka kami.
Eko : " hah !.. hah !.. ternyata emang bener mas... hah !.. hah !.. pocongnya ada beneran "
Zul : " untung kita gak dikejar ko.. hah !.. hah !.. "
Me : " hah !.. hah !.. slamet kita zul "
Pendik : " hah !.. hah !.. lemes aku vig.. hah !.. hah !.. "
Kini terbukti sudah bahwa komplek pemakaman itu ternyata memang benar benar angker seperti yang dibilang warga , pocong pocong itu ternyata bukan hanya sekedar isu belaka melainkan benar benar nyata adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar