LIVING IN BATU CITY - Dentuman Lagi

 Suara dentuman misterius yang kembali terdengar di Jawa Tengah menandakan terjadinya benturan antara energi negatif bervibrasi rendah yang dilepaskan induksi lempengan bumi dengan energi positif bervibrasi tinggi yang perlahan mulai turun dari lapisan stratosfer , benturan antar energi berbeda unsur ini akan menghasilkan suara dentuman yang terdengar di berbagai kota hingga membuat orang orang kebingungan , ada yang bilang dunia mau kiamat dan yang paling konyol ada juga yang bilang kalau danyang tanah Jawa sedang berperang dengan jin penyebar virus Corona , begitulah pemikiran orang awam yang selalu saja mengkait kaitkan kejadian yang tak dipahami dengan sesuatu yang bersifat khayalan berbumbu agama atau budaya.


Suara dentuman yang belakangan ini sering terdengar akan semakin meningkat intensitasnya seiring dengan siklus cosmic yang sedang dalam masa transisi , keaktifan jalur Ring of Fire akan membuat energi negatif bervibrasi rendah dikeluarkan secara terus menerus entah melalui letusan gunung berapi , gempa tektonik dan vulkanik , atau hanya sekedar induksi lempengan bumi yang sedang mengalami pergeseran , di saat bersamaan energi positif bervibrasi tinggi yang selama ini tertahan di lapisan stratosfer bumi secara perlahan mulai turun hingga menghasilkan suara dentuman saat berbenturan dengan energi positif bervibrasi rendah , proses ini akan terus berlangsung hingga bumi benar benar menghabiskan muatan energi negatif yang selama ribuan tahun memenuhi inti bumi , nantinya saat energi negatif itu sudah dikeluarkan semua dan bumi sudah terselimuti energi positif dari stratosfer maka planet ini akan kembali pada frekuensi aslinya yaitu 7 , 83 hertz atau biasa disebut Schumann Resonance.



Seorang rekan yang mempunyai alat pengukur frekuensi sudah mencoba untuk mengukur frekuensi di sekitar gunung Salak yang diduga jadi tempat terjadinya dentuman misterius sebulan lalu , saat ia berada di sana ternyata alat pengukurnya menunjukkan bahwa frekuensi di sekitar gunung Salak sudah mengalami perubahan signifikan mendekati frekuensi 7 ,83 Hertz , diperkirakan pada tahun tahun ke depan bumi akan terus berproses menuju frekuensi aslinya setelah semua energi negatif dikeluarkan secara terus menerus , itu artinya akan ada banyak bencana alam dahsyat serta kekacauan yang terlalu menakutkan untuk dibayangkan , dalam hal ini bab terakhir Jangka Jayabaya benar benar akan terjadi sebagai finalisasi dari jaman Kalabendu yang kemudian bertransisi ke jaman baru Kalasuba.

Vigo 
Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar