LIVING IN BATU CITY - Raise Hell Lower Heaven part 3

 Jaman sekarang memang bukan jaman yang damai , justru sebaliknya jaman sekarang akan terus dipenuhi dengan berbagai macam kekacauan demi kekacauan yang pada akhirnya akan berujung pada kekacauan terbesar yang disebut Goro goro , semua itu akan menggenapi nubuat dalam bait terakhir Jangka Jayabaya dimana bangsa Indonesia sudah benar benar berada pada titik terendah equalibriumnya.


Orang skeptis atau sok modernis jelas hanya menganggap Jangka Jayabaya sebagai ramalan takhayul belaka , sementara orang sok agamis akan menganggapnya sebagai suatu kemusrikan , tetapi bagi orang orang Jawa yang masih memegang ajaran leluhur secara turun temurun Jangka Jayabaya jelas sudah dianggap sebagai pratondo donyo yang selalu terbukti kebenarannya dari masa ke masa , itu karena Jangka Jayabaya ditulis berdasarkan penglihatan gaib Prabu Jayabaya yang consciousnessnya sudah mencapai dimensi Lauhul Mahfuz , di dimensi itulah Prabu Jayabaya melihat sendiri apa yang akan terjadi di Nusantara dalam kurun waktu ratusan tahun hingga mencapai penghabisan jaman Kaliyuga , segala macam perubahan dan pergolakan telah beliau tuliskan ke dalam bab demi bab nubuat yang lambat laun benar benar terjadi dari masa ke masa , kini saat nubuat dalam Jangka Jayabaya sudah memasuki bab terakhir maka terjadilah juga apa yang memang harus terjadi.


Demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi akhir akhir ini hanyalah salah satu hal kecil dari akumulasi sebab akibat pada jaman ini , semua itu mutlak terjadi karena rakyat yang termasuk golongan wong cilik atau golongan grassroot selalu menjadi korban keadaan dari segala macam politik busuk pemerintah , entah itu perkara tetek bengek undang undang , sila sila Pancasila yang dikebiri , KPK yang dilemahkan , kongkalikong bisnis Corona , kedatangan tenaga kerja Cina , kartu pra kerja dan segala kebijakan ngawur lain yang membuat kehidupan rakyat kecil kian menderita , ironisnya mereka yang berani melakukan perlawanan justru tersudut posisinya dengan berbagai macam bentuk fitnah dari media atau buzzer bayaran pemerintah , entah itu dibilang kadrun , kampret , radikal , teroris , anarkis , pengangguran , pemalas , pasukan nasi bungkus dll... sebutan sebutan jelek itu pada dasarnya hanyalah untuk memutar balik fakta dan mempengaruhi opini publik agar kepentingan pemerintah terlindungi , hal semacam ini sama saja dengan yang dilakukan Belanda sewaktu kembali menjajah Indonesia dan kerap menyebut para pejuang dengan sebutan extrimist atau orang orang liar , intinya pemutar balikan fakta ini memang diperlukan bagi penjajah yang sedang berkuasa tetapi sayangnya Indonesia saat ini sedang dijajah oleh pemerintahnya sendiri.


Pemerintahan busuk bisa berkuasa karena punya False King yang dipuja puja banyak orang , False King menjual slogan bhinneka dan pluralisme yang begitu memikat orang orang yang sudah muak dengan khilafah khilafahan , selain itu False King juga menampilkan citra bersahaja serta menawarkan fatamorgana tentang kemajuan dan kesejahteraan bangsa hingga seolah olah dianggap sebagai sosok Satria Piningit , memang sebagian besar orang terlena dengan fatamorgana dan segala tipu daya itu tetapi lambat laun kesadaran orang juga akan terbangkitkan setelah kebusukan demi kebusukan mulai terlihat , False King yang tadinya dianggap Satria Piningit sebenarnya tak lebih sekedar Satria Wirang yang justru membawa kehancuran bangsa , apa yang terjadi pada tahun 2020 ini sudah cukup menjadi bukti walaupun sebagian orang masih tetap menutup sebelah mata , itu karena orang orang itu hidupnya masih enak , masih aman , masih nyaman dan terjamin kesejahteraannya , mereka jelas bukan golongan grassroot yang menjadi korban dari pemerintahan False King.


Golongan grassroot pada titik nadirnya tak akan lagi peduli untuk mati , mereka tidak akan takut menghadapi terjangan peluru aparat , keberanian akan menggerakkan mereka turun ke jalanan di berbagai kota besar terutama di Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan , huru hara yang jauh lebih besar daripada Mei 98 sudah pasti akan terjadi dan membuat situasi bangsa ini berada pada kekacauan masif , sudah pasti pula akan terjadi kerusuhan , penjarahan , pengrusakan dan penganiayaan dimana korbannya bukan lagi sebatas orang Tionghoa tetapi siapapun orang orang yang terlihat kaya dan punya harta , itulah finalisasi dari akumulasi kausalitas yang tak akan dapat dicegah atau ditanggulangi lagi , semua itu akan menggenapi nubuat Goro Goro sebagaimana yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfuz , boleh saja tidak percaya dengan nubuat ini tetapi tak usah kaget kalau nanti benar benar terjadi.


Terjadinya peristiwa Goro Goro ditandai dengan terlihatnya lintang kemukus berekor panjang dari langit sebelah selatan khatulistiwa , pada peristiwa Goro Goro inilah sosok Satria Piningit yang sejati benar benar akan muncul secara misterius , ia ada di antara para demonstran dan ia pula yang membangkitkan keberanian rakyat kecil untuk melawan , sebagian rakyat kecil yang melawan itu ada yang golongan light dan ada juga yang golongan non light , begitu juga dengan pemerintahan hingga aparat yang dilawan sebagian juga ada yang golongan light dan juga golongan non light , semuanya akan bercampur baur hingga tak dapat lagi dibedakan mana yang benar benar golongan light dan mana yang golongan non light , tetapi itu tidak penting karena yang utama bagi Satria Piningit adalah menumbangkan pemerintahan agar ia bisa memegang kekuasaan atas bangsa ini.


Perjuangan Satria Piningit tidak akan sulit karena sesungguhnya ia sudah mengerahkan energi bervibrasi tinggi ke pusat pemerintahan , itu akan membuat golongan non light yang duduk di tampuk pemerintahan atau aparat negara akan melemah kondisi fisiknya karena chakra chakra bawah mereka tidak akan kuat jika terkena energi bervibrasi tinggi , bahkan jika makhluk makhluk alam bawah turut dilepaskan maka orang orang golongan non light itu akan mati dengan sendirinya , sementara orang orang golongan light akan dihimpun secara bawah sadar agar tergerak untuk bersama dalam satu barisan , entah itu aparat polisi , tentara atau orang pemerintahan yang termasuk golongan light akan tersadar bahwa tidak seharusnya mereka menjadi bagian dari pemerintahan False King , pada tahap ini Satria Piningit sudah mencapai keunggulan sementara pemerintahan False King kian berada di ujung tanduk.


Pemerintahan False King pada akhirnya akan jatuh juga sebagaimana kisah revolusi revolusi lain di berbagai belahan dunia , masa kekacauan dan pergolakan yang melelahkan pada akhirnya akan berakhir setelah Satria Piningit memegang hierarki tampuk kekuasaan atas bangsa ini , sementara di saat bersamaan alam akan menuntaskan tugasnya dengan bencana besar yang membelah pulau Jawa menjadi dua bagian , bencana itu akan membungkam semua orang hingga banyak yang tersadar bahwa dunia ini ada yang membuatnya , segala macam hal hal keduniawiaan yang dibangga banggakan pada akhirnya akan musnah juga , walaupun tampak mengerikan namun bencana Jowo Tugel justru berdampak bagus untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlalu cinta dengan dunia , manusia akan dipaksa belajar ikhlas dengan kehilangan harta benda dan juga sanak keluarga.


Bencana Jowo Tugel juga akan membongkar tatanan Indonesia secara keseluruhan , kegotong royongan akan kembali muncul dimana rakyat yang termasuk golongan light akan bersama sama membangun Indonesia yang baru , sementara mereka yang termasuk golongan non light akan dimusnahkan secara gaib oleh Satria Piningit sendiri , ia akan mengerahkan energi bervibrasi tinggi ke seluruh penjuru Indonesia agar makhluk makhluk alam bawah bisa terlepas dan memangsa orang orang golongan non light yang masih tersisa , mereka akan mati dengan sebab sebab tak terduga hingga pada akhirnya seluruh Indonesia akan terbebas dari eksistensi manusia golongan non light , yang diperlukan hanyalah manusia golongan light untuk bersama sama menjadikan Nusantara sebagai kerajaan Allah di muka bumi , sementara Satria Piningit yang sudah bergelar Ratu Adil akan menjadi pemimpin menuju peralihan jaman dimana bangsa bangsa lain yang kondisinya sudah kacau balau akan datang menyatakan diri menjadi bagian dari satu pemerintahan tunggal Nusantara , pada tahapan ini pergerakan galaksi Milky Way sudah hampir melewati garis photon belt hingga posisinya benar benar diambang zona cosmic Pleiades , secara perlahan frekuensi bumi mengalami peningkatan hingga akhirnya terjadilah seleksi alam tahapan final dimana manusia manusia golongan non light di seluruh penjuru bumi manapun akan punah dengan sendirinya karena chakra chakra bawah mereka yang berenergi negatif tidak akan kuat dengan perubahan frekuensi bumi yang baru , hanya manusia manusia golongan light saja yang bisa bertahan karena mereka aktif pada chakra tengah yang hanya berisi energi positif saja , merekalah manusia manusia yang akan menikmati jaman emas Satyayuga dimana segala tatanan kehidupan mencerminkan kehidupan surgawi , itulah happy ending untuk bangsa Indonesia dan juga kemanusiaan universal.


Tak ada lagi sistem Dajjal yang mengangkangi dunia , tak ada lagi nafsu berkuasa , nafsu membunuh , nafsu menzalimi , nafsu memperkosa , nafsu keserakahan , nafsu kesombongan , nafsu kebejatan , nafsu kemunafikan dan nafsu nafsu rendahan lainnya karena manusia golongan non light sudah punah tanpa ada satupun yang tersisa , segala kekacauan , kesengsaraan , kepedihan dan penderitaan di sepanjang jaman Kaliyuga akan menjadi cerita lama yang terlupakan dan tak perlu dikenang , semua itu telah berganti dengan kebahagiaan , kedamaian , ketentraman , keceriaan , kemakmuran , keberlimpahan yang hanya dirasakan oleh manusia manusia golongan light saja , merekalah yang akan menuai dharma pada jaman Satyayuga yang bercahaya karena sesungguhnya bumi tercipta dari cahaya dan hanya untuk cahaya , maka terberkatilah engkau Nur Muhammad , Roh Kudus , Atma , Buddhi , Ingsun , Pancer diri sejati yang bercahaya dalam gumpalan daging penuh mahabutha.

Vigo 
Oktober 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar