Desember 2022 persiapanku untuk pindah ke Kyoto bersama keluargaku sudah hampir rampung , semua urusan sudah diatur teman SMA ku yang bernama Vindy , ia yang membuatku merencanakan kepindahan ke Kyoto untuk meneruskan study S3 sekaligus menikmati apapun yang ada di sana.
Kyoto dikenal sebagai bekas ibukota Jepang pada era Heian hingga Tokugawa , kota itu jauh lebih berbudaya dan lebih tentram daripada Tokyo yang terlalu ramai penuh dengan kesibukan dan gemerlap ibukota , tidak heran kalau Vindy betah tinggal di Kyoto sejak 2018 hingga saat ini.
Kehidupan Vindy di Kyoto sudah enak , ia menjadi profesor doctor di Universitas Kyoto yang memberiku kesempatan untuk melanjutkan study S3 di sana dengan kemudahan beasiswa dari berbagai perusahaan Jepang , ia yang mengurus semua prosedur hingga semuanya berjalan lancar dan mudah.
Vindy juga mencarikan rumah kontrakan murah yang akan kutinggali bersama keluargaku hingga tuntas masa study S3 selama setahunan , selama itu pula aku dan keluargaku berkesempatan merasakan hidup di Jepang yang dulu hanya sebatas angan angan belaka.
Banyak yang ingin kulakukan bersama keluargaku selama tinggal di Kyoto , kami akan mendatangi berbagai tempat wisata seperti kuil Kiyomizu , kuil Toji , kastil Nijo , Fushimi Inari Taisha , hutan Arashiyama dan lain sebagainya , kami juga akan berwisata ke prefektur lainnya.
Selain berwisata kami juga ingin melihat tradisi , adat istiadat , budaya dan kultur sosial orang orang Jepang khususnya di Kyoto yang termasuk wilayah Kansai , untuk pertama kalinya kami juga akan merasakan 4 musim dan menyentuh salju yang tak pernah ada di Indonesia.
Walaupun buta huruf kanji tapi aku cukup fasih berbahasa Jepang karena pernah kursus sebelumnya , hanya perlu mempraktekkan ngobrol dengan orang orang Kyoto yang kabarnya sangat ramah tamah dengan para gaijin seperti Vindy yang sekarang sudah menikah dengan orang asli Kyoto.
Vindy teman lamaku itu termasuk cewek primadona saat masih SMA di Ponorogo , wajahnya cantik seperti Najwa Shihab dan ia juga aktif jadi pengurus OSIS , sering juga ia menang lomba debat bahasa Inggris karena kecerdasannya di atas rata rata dan sangat luwes bergaul.
Aku dan Vindy pernah mewakili kabupaten Ponorogo untuk mengikuti acara kepemudaan di Surabaya pada tahun 2006 , selama 4 hari kami menginap di hotel bersama para peserta lain dari seluruh Indonesia , saat itu Vindy mengungkapkan keinginannya untuk kuliah S1 di Jepang.
Ia mengajakku kuliah di Jepang juga tapi aku menolak karena kuanggap terlalu muluk , lagipula aku ingin kuliah S1 di Jogja sekaligus merintis karier bermusik seperti band band Jogja yang berhasil masuk industri musik mainstream.
Setelah lulus SMA aku dan Vindy telah berpisah dan putus kontak , aku gagal masuk UGM dan membatalkan masuk UMY meskipun sudah diterima , aku malah memilih kuliah di UMM Malang yang sama sekali tak pernah kurencanakan sebelumnya , sementara Vindy sudah tak jelas lagi kabarnya.
Akhir tahun 2010 aku baru berhubungan lagi dengan Vindy setelah menemukan akun Facebooknya , ternyata ia benar benar kuliah di Jepang walaupun harus kerja part time di restoran kawasan Shinjuku Tokyo , saat kulihat foto fotonya ia tampak bahagia dengan kehidupannya di Jepang.
Aku agak menyesal menolak diajak kuliah ke sana , kadang aku berkhayal membayangkan seperti apa jadinya kalau aku kuliah di Jepang , mungkin aku bisa mendapatkan cewek cewek kawaii seperti bintang gravure atau JAV yang biasanya jadi objek buat coli.
Awal tahun 2011 Vindy sudah menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Tokyo , ia langsung diterima kerja di suatu perusahaan yang ada di kota Miyako prefektur Iwate , tapi saat baru tinggal di sana ia mengalami musibah gempa dan tsunami besar pada 11 Maret 2011.
Vindy selamat karena masih sempat berlari ke bukit bersama ratusan warga kota Miyako , dari atas bukit Vindy melihat seluruh kota Miyako tersapu ombak tsunami besar yang menghanyutkan apa saja entah itu motor , mobil , sepeda , perahu , pohon , mesin vending hingga bangunan semi permanen.
Tsunami itu baru reda menjelang sore ketika salju mulai turun , Vindy dan warga kota Miyako yang masih berada di bukit melihat seluruh kota Miyako telah tenggelam dan berantakan hancur hancuran seperti kiamat , malam harinya semua orang diungsikan di kuil yang ada di bukit.
Beberapa hari kemudian Vindy membagikan foto foto saat tsunami sambil menceritakan pengalamannya di grup Facebook SMA , ia sudah kehilangan pekerjaan dan segala macam dokumen seperti visa , paspor dan ijasah S1 , setelah itu akun Facebooknya tak pernah aktif lagi hingga bertahun tahun.
Pada tahun 2016 aku menemukan akun Instagram Vindy , saat kulihat foto fotonya ternyata ia sedang study S2 di universitas Leiden Belanda sambil bekerja part time di toko roti , aku kagum dengan ambisinya yang selalu ingin melakukan pencapaian lebih tinggi walau harus kesusahan.
Vindy masih melajang saat cewek cewek seumurannya sudah menikah dan punya anak , setahun kemudian ia sudah menyandang gelar magister dan kembali ke tanah air , ia sempat menceritakan masalahnya yang dipaksa menikah dengan lelaki pilihan ibunya.
Masalah itu membuat hubungan Vindy dengan ibunya memburuk , tak betah berlama lama di kampung halaman ia langsung merantau ke Jakarta Pusat untuk mencari kerja , setelah itu aku putus kontak dengannya karena semua akun sosmednya tak lagi aktif.
Pada awal tahun 2020 aku kembali berhubungan dengan Vindy melalui Telegram , ternyata ia telah menjadi profesor doctor di Universitas Kyoto setelah menyelesaikan study S3 di universitas Yokohama , itu adalah pencapaian yang luar biasa hingga membuatku agak iri.
Aku sendiri baru saja menyelesaikan study S2 di UIN Malang dan menyandang gelar magister , tapi situasi memburuk ketika wabah virus Corona tiba tiba merebak , bisnisku terhenti sementara tes penerimaan dosen di semua universitas ditunda tanpa kepastian.
Di saat yang sama istriku hamil anak pertama sementara aku kelimpungan menjalankan bisnis kecil kecilan , Vindy menawarkan akan membantu jika aku ingin study S3 di universitas Kyoto saat wabah virus Corona sudah usai tapi aku merasa belum siap sama sekali.
Aku disuruh Vindy kursus bahasa Jepang dulu , selama beberapa bulan aku mengikuti kursus bersama mahasiswa atau calon TKI yang akan diberangkatkan ke Jepang , hingga menjelang akhir tahun 2020 anak pertamaku lahir sementara aku mengikuti tes penerimaan dosen yang dibuka kembali.
Akhir tahun 2020 aku diterima menjadi dosen tidak tetap untuk mengisi kekurangan kuota dosen di universitas Brawijaya , aku senang dengan pencapaianku ini sementara hidupku jadi lebih baik daripada sebelumnya , bahkan aku langsung membeli rumah baru di perumahan kota Batu.
Statusku dosen non PNS yang hanya dikontrak selama 2 tahun , kubilang pada Vindy kalau aku mungkin akan meneruskan study S3 di universitas Kyoto setelah usai masa kontrakku pada akhir tahun 2022 , aku yakin wabah virus Corona akan usai dan Jepang terbuka lagi menerima kedatangan para gaijin.
Sepanjang tahun 2021 aku mengajar daring secara online sama halnya dengan Vindy , kehidupan kami juga sama sama membaik berkat kerja keras dan juga keberuntungan , aku baru saja membeli lahan tambak bandeng di Gresik sementara Vindy membeli apartemen bersama calon suaminya.
Akhir tahun 2021 Vindy tiba tiba langsung menikah , ia menyandang nama marga suaminya yang merupakan orang asli Kyoto , Vindy juga sedang mengajukan permohonan kewarganegaraan Jepang yang berarti ia akan segera melepas statusnya sebagai warga negara Indonesia.
Indonesia tak lebih sekedar negara yang bobrok , korup , terbelakang dan membosankan , sejak awal Vindy menyadari itu hingga ia terus mencari jalan untuk bisa hidup di luar negeri secara permanen , Jepang adalah pilihan yang ia anggap ideal terlepas dari segala keburukannya.
Aku juga berpikiran sama dengan Vindy tapi kondisiku tidak memungkinkan untuk bisa mengikuti jejaknya , ada banyak tanggung jawab yang tak bisa kutinggalkan meskipun aku sudah sangat muak dengan apapun yang ada di negeri ini.
Memasuki tahun 2022 istriku hamil anak kedua , sambil mengasuh anak pertamaku yang masih berusia setahunan istriku terus melakukan treatment kehamilan secara mandiri , tetapi rupanya takdir berkata lain karena istriku mengalami keguguran menjelang kelahiran anak keduaku.
Keguguran kandungan itu mengakibatkan kematian anak keduaku yang seharusnya kudengar tangisannya saat hari kelahiran , kedukaan mendalam benar benar kurasakan sementara istriku jadi depresi sering murung menangis sendiri dan badannya jadi semakin kurus.
Tak lama kemudian aku mengalami kecelakaan di jalur kawasan pegunungan Cangar , mobilku terguling ke jurang hingga ringsek sementara aku cuma mengalami luka ringan , kecelakaan itu terjadi karena pikiranku ruwet terus berlarut larut dalam kedukaan.
Awal Oktober 2022 aku berusaha membangkitkan semangat dengan menonton pertandingan sepakbola antara Arema dan Persebaya yang merupakan musuh bebuyutan , saat tiba di stadion Kanjuruhan suasana sangat meriah tapi siapa sangka setelah pertandingan selesai malah terjadi kerusuhan.
Situasi di dalam stadion benar benar kacau balau , para Bonek dan Aremania saling campur aduk sambil baku hantam , para polisi juga dikeroyok sementara asap gas air mata menyebar kemana mana , banyak orang tumbang sebelum mencapai pintu keluar stadion.
Mataku sudah terasa pedas terkena asap gas air mata sementara rombongan teman teman Aremania yang bersamaku sudah kocar kacir tak karuan , aku bisa keluar stadion setelah dituntun gerombolan Bonek yang tampak urakan , ternyata mereka orang orang baik padahal tadinya aku takut akan dihajar.
Setelah peristiwa kerusuhan itu aku hanya berdiam diri di rumah , aku beruntung bisa selamat apalagi korban kerusuhan itu mencapai ratusan orang yang tewas secara mengenaskan , saat kuceritakan pada Vindy ternyata ia malah marah karena khawatir kalau aku sampai terluka hingga batal ke Jepang.
Vindy sudah mengatur semua urusan study S3 di universitas Kyoto , aku hanya perlu menyiapkan dokumen seperti visa , paspor , ijasah dan surat vaksin yang kupalsukan , setelah itu aku harus mengatur bisnisku agar bisa terus berjalan selama kutinggal ke Jepang.
Istriku tadinya tidak direncanakan ikut ke Jepang , tapi karena keguguran kandungan akhirnya kuajak serta istri dan anak pertamaku yang usianya telah genap 2 tahun , kurasa suasana Kyoto akan membuat istriku melupakan kedukaan mendalam atas kematian anak keduaku yang masih jabang bayi.
Mertuaku tidak masalah ditinggal ke Jepang selama setahunan , soal keuangan mereka tidak bergantung padaku , aku hanya meminta mereka untuk mengurusi rumahku yang kosong , selain itu aku juga memperingatkan agar selalu siaga jika tahun 2023 terjadi gempa besar dari laut selatan Jawa.
Awal Desember 2022 kontrakku sebagai dosen tidak tetap telah usai , aku punya banyak waktu luang yang kumanfaatkan untuk menyelesaikan semua persiapan sambil melakukan apapun yang menyenangkan , aku dan istriku juga sempat nonton berbagai video dokumenter yang latarnya di Kyoto.
Rasanya jadi bersemangat setelah nonton itu semua , Kyoto benar benar mengagumkan hingga rasanya jadi tak sabar ingin segera tiba dan menikmati apapun yang ada di sana , mulai soal wisata hingga berbagai kuliner khas Kyoto seperti yudofu , kaseiki ryori , kyo tsukemono dll
Sesuai jadwal aku dan keluargaku akan berangkat pada awal Januari 2023 beberapa hari setelah perayaan tahun baru , jadwal ini lebih maju 2 bulanan agar lebih banyak waktu untuk proses adaptasi sosial , penstabilan kehidupan dan juga untuk berkeliling menjelajahi seluruh wilayah Kyoto sepuasnya.
Mungkin selama berada di sana aku benar benar akan terlupa dengan apapun yang ada di Indonesia , apa pentingnya juga mengingat Indonesia yang semakin lama malah semakin memuakkan , malah bagus kalau bencana besar menimpa Indonesia biar sekalian alam menghancurkan negeri yang pernah kucinta ini.
SAYONARA INDONESIA
SELAMAT TINGGAL SEMUANYA
JAGA SELALU KELUARGA TERCINTA
Vigo Vampiro
Desember 2022



Tidak ada komentar:
Posting Komentar