MALANG MYSTERIO - Astral Projection ke Mojensu Pacitan

ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar akhir tahun 2010 ketika aku masih kuliah semester 7


Di atas ketinggian puluhan meter sukma kami melayang layang sambil menatap patung Jenderal Sudirman yang berdiri menjulang tak jauh di hadapan kami , saking menjulangnya patung panglima besar itu terlihat bagaikan raksasa yang menguasai pegunungan di daerah yang bernama Nawangan ini , salah satu kecamatan di kabupaten Pacitan yang geografisnya bergunung gunung.

Renggo : " dulu pak dirman gerilya sampe nawangan sini "

Steve : " ditandu ngelewatin pegunungan kayak gini bang ? "

Renggo : " iya stiv , soalnya pak dirman diburu kompeni terus "

Steve : " ada apaan lagi di sini bang ? "

Renggo : " pak dirman punya khodam yang masih hidup sampe sekarang "

Steve : " khodam ?!... makhluk apa bang ? "

Renggo : " ntar lu bakalan tau sendiri stiv "

Steve : " ada di sini juga ya bang ? "

Renggo : " ada di sekitar gunung gunung sebelah barat itu "

Aku dan Pendik hanya terdiam mendengar omongan Bang Renggo barusan , aku sama sekali tak mengerti tentang makhluk astral yang katanya menjadi khodam Jenderal Sudirman.

Pendik : " mana lho bang ?!.. aku kok ngga lihat apa apa "

Renggo : " kita tungguin sambil duduk di atas patung deh , ayo ikutin gw ! "

Dengan bersemangat Bang Renggo memimpin kami melayang mendekat ke arah patung Jenderal Sudirman itu , ketika kami tiba tepat di atas bagian kepalanya barulah kusadari betapa besarnya ukuran patung ini , apalagi saat kami mendarat di bagian pundaknya , ternyata sukma kami ini cuma setinggi lehernya saja.

Pendik : " guedi yo vig patunge "

(buesar yo vig patungnya)

Me : " nek mbangun piye yo ndik ? "

(kalo mbangun gimana ya ndik ?)

Kini di pundak patung raksasa ini kami berempat duduk sambil memandangi suasana sekitar yang tampak sunyi , hanya ada pegunungan , hutan serta pedesaan yang letaknya berpencar pencar.

Renggo : " tadi kita berangkat dari malang jam berapa stiv ? "

Steve : " setengah 5 kayaknya "

Renggo : " kita tungguin sampe matahari tenggelam "

Me : " emang khodamnya pak dirman nongolnya jam segitu bang ? "

Renggo : " iya vig , cuma pas mau maghrib doang "

Entah seperti apa wujud makhluk khodam itu , aku merasa semakin penasaran dan tak sabar menunggu kemunculannya menjelang maghrib nanti.

Steve : " jenderal sudirman emang beneran sakti ya bang ? "

Renggo : " kan pak dirman penganut kebatinan stiv , lu pernah denger pas pesawat belanda mau ngebom desa di jogja ? "

Steve : " ngga pernah bang , emang diapain pesawatnya ? "

Renggo : " ngga diapa apain pesawatnya , tapi pak dirman bisa bikin kamuflase gaib biar desanya kelihatan kayak hutan.... akhirnya tu pesawat gak jadi ngebom "

Steve : " ajian apa ya itu bang ? "

Renggo : " gw juga gak ngerti ajian apaan , pokoknya ajiannya tingkat tinggi semua... kan pak dirman dulu tirakatnya di pantai parangkusumo "

Dengan bersemangat Bang Renggo terus bercerita tentang sepak terjang Pak Dirman yang konon menguasai bermacam ajian tingkat tinggi , sementara dalam hati aku merasa kagum mendengar kisah pahlawan yang satu ini... suatu bentuk perjuangan yang berat dan benar benar mengerahkan segala daya baik fisik maupun metafisik , semuanya beliau lakukan hanya demi memerdekakan tanah air yang dicintainya ini.

Renggo : " ini kayaknya udah jam 5 lewat stiv , ya paling seperempat jam lagi nongol "

Steve : " aku kok ngga ngerasain energinya bang ? "

Renggo : " kan gw bilang masih belum nongol "

Aku merasa penasaran dan semakin tak sabar menunggu kemunculan makhluk itu , yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memandangi eloknya pegunungan sekitar , apalagi pancaran matahari senja di ufuk barat membuat pemandangan tampak lebih indah.

Me : " ini pertama kali kita ngastral sore hari ya stiv "

Steve : " kalo aku udah sering kok mas ngastral jam segini , apalagi pas bersihin kabut asap di pekanbaru kemaren "

Renggo : " kita jadi punya banyak waktu buat ngastral , abis ini kita ke teluk pacitan "

Me : " wah asik tuh bos , kan ada pantai teleng ria di sono "

Pendik : " koyok traveling awake dhewe vig "

(kayak travelling kita vig)

Memang ada keuntungan tersendiri melakukan astral projection saat sore hari seperti ini , kami jadi punya banyak waktu buat menjelajahi berbagai tempat , selain itu apa yang kami lihat jadi lebih jelas daripada saat malam hari , dimana kemampuan mata astral akan berkurang dan apa yang terlihat jadi agak buram.

Steve : " bang ?!?.. "

Renggo : " eh siap siap semuanya ! "

Me : " mau nongol sekarang bang ?! "

Renggo : " iya vig , siap siap kita hadap ke barat ! "

Begitu Bang Renggo mengkomando kami langsung berdiri menghadap ke ufuk barat , katanya makhluk itu akan segera muncul tak lama lagi... selama beberapa menit kami terus memandangi ufuk barat namun makhluk itu masih belum kelihatan juga , satu satunya yang terlihat hanyalah matahari yang sinarnya semakin meredup dan semakin tenggelam di balik pegunungan.

Steve : " makin lama makin besar bang energinya "

Renggo : " berarti udah makin dekat stiv "

Pendik : " aku kok rodo wedi vig "

(aku kok agak takut vig)

Me : " lapo wedi ndik ?! "

(ngapain takut ndik ?!)

Renggo : " sttt !!... siap siap semuanya ! "

Perasaanku benar benar deg degan menanti kemunculan makhluk itu , apalagi Steve baru saja merasakan betapa besar energinya seiring dengan kian dekatnya kemunculan makhluk itu.

Steve : " bang ?!?.... iitu bang ?!? "

Renggo : " eh udah keliatan tuh , ayo lihat semuanya !! "

Me : " gak jelas bang "

Pendik : " endi lho vig ?! "

(mana lho vig ?!)

Kini kami terdiam dan terus mengamati ufuk barat dimana matahari tampak nyaris tenggelam , ternyata benar apa kata Bang Renggo... makhluk itu benar benar telah muncul dan terlihat di kejauhan sana.

Semburat sinar matahari senja membuat kepakan sayap makhluk itu terlihat begitu anggun " koooakk !!.... kkoooakk !!... " sayup sayup terdengar suaranya yang menggema di pegunungan dan semakin lama terdengar semakin nyaring memecah kesunyian , seiring jaraknya yang kian dekat barulah kami menyadari kalau wujud makhluk itu ternyata adalah seekor gagak raksasa berbulu hitam.

Steve : " gagak raksasa ?! "

Renggo : " ya itu khodamnya pak dirman "

Me : " ggede bos !! "

Pendik : " wancik vig ?!... nggumun temenan aku "

Kami hanya bisa terpana menatap gagak raksasa yang terbang berkilo kilo meter di hadapan kami itu " koakkk !!!... kooakk !!!... " gema suaranya terdengar kian nyaring dan membuat kami tak kuasa meredam rasa takjub yang luar biasa... selama melakukan astral projection baru kali ini kujumpai makhluk astral sebesar itu.

Pendik : " bbang ?!.. iitu gagaknya kok terbang ke sini ?! "

Renggo : " ngga pa pa cuma lewat doang ndik , malah kita bisa liat lebih jelas lagi "

Steve : " apa perlu kita nyusul terbang ngikutin dari belakang bang ?! "

Renggo : " ngga perlu stiv , ntar malah kabur gagaknya.. kita ngelihat dari sini aja deh "

Ketakjuban ini terasa semakin menjadi jadi manakala gagak raksasa itu terbang semakin dekat ke arah monumen ini " kooakkk !!!... kooakkk !!!... " kian dekat jaraknya kian nyaring pula suaranya terdengar dan seketika menggetarkan hati sanubari , hingga akhirnya kami semua mendongakkan kepala saat gagak raksasa itu terbang melintas tepat di atas monumen ini , bentang sayap serta ukuran tubuhnya kira kira seukuran pesawat tempur dan " wuuzzz !!!... wuuzz !!!.... " kepakan sayapnya yang begitu lebar itu langsung menghasilkan angin kencang yang menerpa muka dan rambut kami.

Pendik : " wancik vig ?!... manuk kok guedine koyok pesawat "

(wancik ?!... burung kok besarnya kayak pesawat)

Me : " .... "

Tak sepatah kata bisa terucap untuk mengungkapkan ketakjubkan yang kurasakan ini , aku hanya bisa terdiam dan terus terpana memandangi gagak raksasa itu hingga akhirnya terbang menjauhi monumen ini.

Steve : " terbang ke timur terus bang "

Renggo : " mau nyari makan stiv "

Perlahan gagak raksasa itu terbang semakin menjauh ke arah timur sebelum akhirnya tak terlihat lagi oleh pandangan mata , entah mau terbang kemana makhluk itu.

Renggo : " lu tau stiv , burung kayak gitu umurnya tua banget , ada 1000 tahun lebih kayaknya "

Steve : " populasinya gimana bang ? "

Renggo : " ngga banyak di dunia ini , cuma sisa dikit... di kalimantan gw cuma nemu 3 ekor doang "

Steve : " apa burung kayak gitu udah ada jaman atlantis bang ? "

Renggo : " gw gak tau , mungkin udah ada "

Me : " trus kok bisa jadi khodamnya jenderal sudirman bang ? "

Renggo : " gagak itu kalo ketemu orang yang maqam spiritualnya tinggi pasti bakalan tunduk "

Sungguh luar biasa apa yang kusaksikan barusan , ketakjubanku terhadap apa yang ada di alam astral ini semakin lama semakin membuatku tertantang untuk menyibak misterinya lebih jauh lagi.

Renggo : " mau maghrib nih , kita langsung ke teluk pacitan sekarang aja ya ? "

Me : " oyi bos "

Pendik : " ayo ladub wes bang ! "

Perlahan kami mulai terbang dan beranjak meninggalkan komplek monumen yang mulai tampak gelap ini , dengan santai kami terbang menuju teluk Pacitan yang merupakan tujuan berikutnya.... entah apa yang akan kami jumpai di sana nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar