MALANG MYSTERIO - Astral Projection ke Gunung Panderman part 2


Tak terasa sudah jam 11 malam lewat , selepas mandi air hangat aku segera keluar kamar lalu bersantai sejenak di sofa lobby.... kulihat si Rudi sang resepsionis tampak tengah menonton bola sambil terkantuk kantuk , lekas saja kuhampiri dia sambil kutawari rokok.

Me : " piro piro iki rud ?! "

(berapa berapa ini rud ?!)

Rudi : " isek 1-0 mas vig , seng ngegolno messi "

(masih 1-0 mas vig , yang ngegolin messi)

Me : " sip yo maine rud "

(sip ya mainnya rud)

Rudi : " tapi kok gak iso juara piala dunia yo argentina wingi ? "

(tapi kok gak bisa juara piala dunia ya argentina kemaren ?)

Me : " lha sing sip gur messi thok rud , pemain liyane ndledek kabeh "

(lha yang sip cuma messi doang rud , pemain lainnya jelek semua)

Aku dan Rudi mulai keasikan nonton bola di tv , pertandingan antara Barcelona lawan Sevilla ini terlalu sayang untuk dilewatkan.... namun tak lama kemudian datang 2 orang pemuda yang mengenakan kostum mendaki dan membawa sejumlah peralatan camping , bisa kupastikan mereka baru saja turun selepas berkemah di gunung Panderman.

Rudi : " sek yo mas tak ngeladeni tamu disek , penakno ! "

(bentar yo mas tak ngeladenin tamu dulu , enakin !)

Me : " oyi , ndang kono !! "

(oyi , cepetan sono !!)

Bergegas si Rudi menyambut 2 pemuda itu untuk mengurusi keperluan check in , setelah itu ia menyerahkan kunci kamar pada room boy yang kemudian mengajak 2 pemuda itu menuju kamar yang dipesannya.

Rudi : " arek mari kemah soko panderman mas "

(anak abis kemah dari panderman mas)

Me : " adem adem kok yo kemah ndek gunung yo rud ? "

(dingin dingin kok ya kemah di gunung ya rud ?)

Rudi : " lha yo mas , penak koyok sampeyan iku adem adem kelonan ambek ojob ndek kamar "

(lha iya mas , enak kayak sampeyan itu dingin dingin tiduran ma pacar di kamar)

Me : " ha.. ha.. ha.. "

Kini aku dan Rudi melanjutkan lagi acara nonton bola , setengah jam kemudian 2 pemuda tadi balik lagi ke lobby dan ikutan nonton bola bareng kami.... sepertinya mereka baru saja mandi dan kini hanya mengenakan kaos dan sarung saja.

Rudi : " kok turunnya malem malem mas ?! "

Cowo A : " kita ini ngga jadi kemah tadi mas "

Cowo B : " masalahnya tadi ada gangguan lelembut mas "

Rudi : " gangguan lelembut ?! "

Me : " penunggu gunung panderman ya mas ?! "

Cowo A : " kayaknya emang iya mas "

Mendengar penuturan 2 pemuda ini langsung membuat perhatianku tersita , ternyata mereka tak jadi berkemah gara gara diganggu lelembut penunggu gunung Panderman... dari raut muka mereka tampak tersisa rasa takut yang sepertinya masih membayangi pikiran.

Rudi : " aku sering mas denger cerita gaib di panderman , tapi belum pernah lihat "

Cowo A : " tadi itu kita kemah di watugedi , lagi enak enak bakar singkong gak taunya ada kakek kakek dateng mas "

Cowo B : " kita mikirnya itu penduduk desa situ , tu kakek nyamperin trus minta rokok mas... ya udah aku kasih aja sebatang abis itu langsung pergi "

Cowo A : " tau gak mas ?!... perginya itu terbang ke atas pohon trus ilang "

Cowo B : " wah langsung panas dingin badanku mas "

Rudi : " berarti kakek tadi bukan orang ya mas ?! "

Cowo A : " ya iyalah mas , masak orang bisa terbang ?! "

Kini aku tak lagi fokus nonton bola karena pembicaraan ini terasa kian menegangkan sekaligus membuatku kian penasaran , sambil merokok aku terus menyimak kelanjutan cerita mereka.

Cowo A : " abis itu mas , ada suara kuda berisik banget tapi aku lihat gak ada apa apa "

Rudi : " kuda siluman tha mas ?! "

Cowo A : " bener , tapi akhirnya muncul juga kudanya dari hutan "

Cowo B : " kudanya buanyak mas , terus ada kayak prajurit jaman dulu yang naikin "

Me : " prajurit jaman singosari mas ?! "

Cowo A : " gak tau deh mas , pokoknya kayak di film jaman dulu "

Cowo B : " itu kuda pada lewat di watugedi , gak jauh dari tenda kita mas "

Cowo A : " nah abis itu tau tau kudanya pada terbang mas "

Rudi : " kudanya bisa terbang ?!? "

Cowo B : " beneran ini mas , kudanya terbang trus ngilang nembus awan "

Rudi : " wah kok serem ya mas ?!... pasti kudanya lelembut itu "

Rasa penasaranku semakin terusik gara gara mendengar cerita mereka , di benakku para prajurit itu mungkin penampilannya sama dengan prajurit di kampung Tirta Naga dan kemungkinan besar memang ada perkampungan gaib juga di sana... kurasa akan sangat menarik kalau malam ini aku melakukan astral projection ke gunung Panderman , lagipula aku pernah mendaki gunung setinggi 2000 mdpl itu sehingga aku tak akan kesulitan mencari cari lokasi angker yang dimaksud oleh 2 pemuda ini.

Begitu masuk kamar aku langsung duduk bersila di lantai dan kemudian melakukan olah nafas sejenak , sementara Rani tampak masih tertidur pulas di atas ranjang dengan sekujur tubuh terbungkus selimut tebal.... lekas kupejamkan mataku dan kuturunkan gelombang otakku dari alpha ke theta , tak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai deep trance dengan kondisi tubuh yang telah paralysed total dan tak lagi merasakan apa apa , seluruh sensasi panca indra telah berpindah ke sukma dan sekejap kemudian aku telah berhasil menanggalkan tubuh fisikku yang masih duduk bersila di lantai... sesaat kubiarkan sukmaku melayang di langit langit kamar ini dan kemudian kuhampiri kekasihku yang tengah tertidur pulas di atas ranjang , kusempatkan untuk menatap wajahnya selama beberapa menit sebelum akhirnya kutembus atap hotel ini... kini sukmaku melayang layang di angkasa dan sejenak kupandangi gunung Panderman yang berdiri menjulang di kejauhan , gunung itu tampak begitu gelap gulita dan terselimuti gumpalan awan tebal yang seolah menutupi misteri di baliknya.... kurasa sudah waktunya bagiku untuk menyibak misteri yang kian mengusik rasa penasaranku ini.

Jarak antara hotel dan gunung Panderman hanya belasan kilometer saja , aku memilih untuk terbang dengan kecepatan rendah sambil mengamati suasana hutan yang berada di bawahku... di antara lebatnya pepohonan kulihat beberapa kilatan cahaya yang muncul sekejap mata , entah aku tak tahu kilatan cahaya apa itu dan aku tak tertarik untuk turun ke hutan karena fokusku adalah menuju gunung Panderman , ketika jarakkku kian dekat aku melihat beberapa kuntilanak yang tampak beterbangan dari lereng , sepertinya mereka terbang menjauh karena mendeteksi keberadaan sukmaku yang kian dekat dengan gunung.

Kuputuskan untuk mendarat di area Watu Gedi karena 2 pemuda tadi mengaku melihat penampakan lelembut di sini , ketinggian area ini mencapai lebih dari 1500 mdpl sehingga tak heran kalau hembusan angin terasa sangat kencang dan suhu udaranya juga begitu dingin... selama beberapa menit aku bertahan di area penuh bebatuan ini sambil terus mengamati keadaan sekeliling , sebelum akhirnya kudengar suara parau yang seketika mengagetkanku " ngger ?!.. ngger ?!.. " ternyata tepat di belakangku ada seorang kakek yang tiba tiba muncul entah darimana , karuan saja aku terkejut melihat sosok kakek yang mengenakan udeng , rompi dan celana hitam ini... kemungkinan besar kakek ini adalah yang dimaksud oleh 2 pemuda di hotel tadi.

Kakek : " kon sopo ngger ?! "

Me : " oh kulo tiang saking malang mbah , lha njenengan sinten mbah ?!? "

(saya orang dari malang mbah , lha njenengan siapa mbah ?!?)

Kakek : " aku joyokerto ngger , umurku nem atus taun punjul "

Me : " njenengan ingkang nunggu gunung niki tha mbah ?! "

(njenengan yang menunggu gunung ini tha mbah ?!)

Kakek : " guduk ngger , aku ki mek abdine prabu bayu persodo "

(bukan ngger , aku ini cuma abdinya prabu bayu persodo)

Me : " sinten niku prabu bayu persodo ?! "

(siapa itu prabu bayu persodo ?!)

Kakek : " danyange gunung iki , kratone manggon ndek pucuk basundoro kono "

(penguasanya gunung ini , kratonnya bertempat di puncak basundara sana)

Mendengar apa yang dikatakan kakek ini membuatku berkesimpulan bahwa gunung Panderman ini juga memiliki kehidupan selayaknya perkampungan manusia , kurasa aku harus mengunjungi kraton gaib milik penguasanya yang berada di puncak Basundara dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl.

Me : " njenengan saget ndereaken kulo teng kratonipun prabu bayu persodo mbah ?! "

(njenengan bisa nganterin saya ke kratonnya prabu bayu persodo mbah ?!)

Kakek : " kratone prabu bayu persodo iku onok ing langit kapindo ngger , aku gak biso ngeterno ngasi teko kraton soale wes peraturan nek sukmone manungso gak entuk mlebu "

(kratonnya prabu bayu persodo itu ada di langit lapis kedua ngger , aku gak bisa nganter sampe kraton soalnya udah peraturan kalo sukmanya manusia gak boleh masuk)

Me : " trus pripun mbah ?! "

(trus gimana mbah ?!)

Kakek : " nek pengen ndelok sedelut koyok ngopo kratone gak opo opo ngger , tapi nek mlebu gak entuk "

(kalo pengen lihat sebentar kayak apa kratonnya gak apa apa ngger , tapi kalo masuk gak boleh)

Me : " ngoten mbah ?!.. yo wes mbah kulo nyuwun terno sakniki mawon "

(gitu mbah ?!.. ya udah mbah saya minta anter sekarang aja)

Kakek : " ayo ngger !!... ayo melok aku miber ! "

(ayo ngger !!... ayo ikut aku terbang !)

Lekas saja aku mengikuti kakek itu terbang menuju puncak Basundara yang terselimuti gumpalan awan tebal , sementara di kejauhan tampak gunung Arjuno yang seolah menjadi pendamping dari gunung Panderman ini.

Kakek : " tak bukak e disek ngger ben biso mlebu langit kapindo "

(tak buka dulu ngger biar bisa masuk langit kedua)

Me : " nggeh mbah "

Kurasa apa yang dimaksud langit kapindo oleh kakek ini adalah alam astral lapisan pertengahan dimana eksistensi keraton itu berada , kini dengan kondisi melayang layang di atas puncak gunung kakek itu mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi , sekejap kemudian terciptalah lobang portal dengan cahaya jingga kekuningan yang berpendar pendar di atas kepalanya... ternyata cara perpindahan antar lapisan astral yang dilakukan kakek ini sama saja dengan yang diajarkan Bang Renggo kepadaku.

Kakek : " ayo mlebu ngger !! "

(ayo masuk ngger !!)

Me : " nggeh mbah "

Lekas saja kami memasuki portal yang memancarkan cahaya jingga kekuningan itu , begitu masuk aku langsung terperanjat mendapati keadaan yang jauh berbeda daripada sebelumnya , langit malam yang tadinya berwarna hitam gelap kini berubah jadi jingga terang seperti saat sore hari , sementara di lereng tampak perkampungan dengan rumah rumah gedek yang dipenuhi hiruk pikuk aktivitas penduduk... sekilas suasana ini mengingatkanku dengan perkampungan Tirta Naga yang ada di waduk Karang Kates.

Kakek : " iku lho ngger kratone prabu bayu persodo ! "

(itu lho ngger kratonnya prabu bayu persodo !)

Me : " niku mbah ?!? "

Tepat di puncak gunung ini kulihat komplek keraton yang arsitekturnya nyaris mirip dengan candi , dindingnya terbuat dari batuan gunung berwarna kelabu dan ada banyak prajurit yang tampak hilir mudik di sana sini.

Me : " niku prajurite tha mbah ?! "

(itu prajuritnya tha mbah ?!)

Kakek : " iyo ngger , putuku yo onok seng dadi prajurit "

(iya ngger , cucuku juga ada yang jadi prajurit)

Ada cukup banyak prajurit yang tampak hilik mudik di dalam komplek keraton itu , mereka mengenakan udeng , rompi dan celana berwarna merah , sementara senjatanya adalah tombak dan tameng keemasan.... kurasa prajurit prajurit itu adalah yang dimaksud oleh 2 pemuda di hotel tadi.

Me : " niki sampun dangu mbah kratone ?! "

(ini udah lama mbah kratonnya ?!)

Kakek : " suwe ngger , jamane singosari wes onok... iki jenenge kraton songgolangit katelu , seng kasiji ndek arjuno nek seng kaloro ndek welirang "

(lama ngger , jamannya singosari udah ada... ini namanya kraton songgolangit ketiga , yang pertama di arjuna kalo yang kedua di welirang)

Dari penuturan kakek ini baru kuketahui bahwa ternyata ada 3 keraton yang berada di gunung gunung berbeda , kuperkirakan usia keraton bernama Songgolangit katelu ini nyaris sama dengan kampung Tirta Naga yang sudah eksis sejak jaman kerajaan Singosari , tingkat peradabannya juga tampak setara dan nyaris tak ada perbedaan signifikan.

Kakek : " yok opo ngger ?!.. wes marem nek mu nyawang ? "

(gimana ngger ?!.. udah puas kalo lihat ?)

Me : " niki kulo mboten saget mlebet kraton mbah ?! "

(ini saya gak bisa masuk kraton mbah ?!)

Kakek : " aku iki gak entuk nggowo sukmone manungso mlebu ngger , ngko prabu bayu persodo biso murko lak yo aku seng ciloko "

(aku ini gak boleh bawa sukmanya manusia masuk ngger , ntar prabu bayu persodo bisa marah kan aku yang celaka)

Me : " ngoten mbah ?!.. nggeh sampun cekap sementen mawon "

(gitu mbah ?!... ya udah cukup segini aja)

Sebenernya aku penasaran ingin tau seperti apa dalamnya komplek keraton itu namun sayangnya kakek ini tak bisa membawaku masuk , kini ia mengulurkan kedua telapak tangannya ke bawah dan terciptalah sebuah lobang portal yang tembus ke alam astral lapisan bawah.

Kakek : " wes ngger , ndang mulio ! "

(udah ngger , cepet pulang !)

Me : " nggeh mbah , suwun "

Aku merasa sudah cukup puas meskipun cuma sebentar dan hanya sedikit menyingkap misteri gaib gunung ini , apa yang kujumpai di sini semakin membuka cakrawala terhadap realitas tak kasat mata yang mungkin di mata orang awam dianggap tak lebih sekedar mitos belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar