Tiba di pendopo kulihat Bang Renggo tengah asik bercakap cakap dengan seorang pemuda berkulit sawo matang yang mengenakan udeng , rompi serta celana hitam , sementara di lantai tergeletak sebatang tombak yang bermata trisula keemasan... pemuda itu terlihat bagaikan seorang prajurit seperti di film kerajaan jaman dulu.
Renggo : " eh vig , abis dari mana lu tadi ?! "
Me : " minum dawet di rumah orang "
Renggo : " ha.. ha.. enak kan dawetnya ?!... dulu gw juga sering ditawarin "
Me : " lumayan dawet gratis bos "
Renggo : " nih kenalin vig , namanya aryo wijoyo "
Me : " aryo wijoyo ?! "
Aryo : " iyo , aku aryo wijoyo mas "
Me : " oh iyo iyo , aku vigo "
Sesaat aku berkenalan dan berjabat tangan dengan pemuda bernama Aryo Wijoyo ini , entah kenapa ia bisa berbahasa Indonesia dengan fasih tak seperti gadis yang kutemui tadi.
Aryo : " aku temane renggo , dia dulu sering ke sini "
Renggo : " gw ma aryo udah sohib vig "
Me : " tapi kenapa bisa bahasa indonesia ?! "
Aryo : " aku belajare bahasa indonesia dari mas priono "
Renggo : " priono temen kuliah gw dulu vig , gw kalo ke sini pasti sama dia "
Me : " oh gitu ya bang ? "
Sekilas kuamati penampilan Aryo yang lumayan macho ini , mukanya agak mirip dengan aktor Restu Sinaga sementara postur tubuhnya tampak tegap dan atletis bak petinju... kurasa pemuda ini menjadi pujaan bagi gadis gadis di kampung Tirta Naga ini.
Renggo : " vig , lu kan belum tau kampung ini kayak apa , ayo deh kita jalan jalan sama si aryo ! "
Aryo : " monggo ikut aku !!... nanti lihat sendiri kampungku iki mas "
Dengan bersemangat Aryo meraih tombaknya dan kemudian mengajak kami berjalan jalan santai , ketika aku dan Bang Renggo berjalan di belakang Aryo seluruh penduduk yang berpapasan tampak keheranan menatap kami.... bisa kupastikan karena penampilan kami tak sama seperti mereka yang mengenakan jarik , udeng dan juga celana hitam.
Me : " risih gw bos diliatin orang "
Renggo : " santai aja lu , mereka udah tau kalo kita manusia yang lepas sukma "
Kuabaikan tatapan mata mereka yang terheran heran menatapku , kini kami bertiga tiba di sebuah bangunan yang dipenuhi orang orang yang berjualan , rupanya tempat ini adalah pasar tradisional yang sekilas tak jauh beda dengan pasar di alam manusia , ada banyak penjual sayur mayur , buah buahan , jajanan dan juga ikan.
Aryo : " iki dino pahing , pasare rame "
Renggo : " iya aku tahu yo "
Pasar telah terlewati dan kini kami melintas di depan sebuah bangunan yang halamannya dipenuhi anak anak kecil berkepala plontos , mereka tampak asik bermain dan berkejar kejaran dengan riang.
Aryo : " iki sekolah dasar kecamatan sini , aku yo sekolah di sini "
Renggo : " sama aja kan kayak di dunia kita vig "
Asik juga berjalan jalan mengelilingi kampung Tirta Naga ini , setelah kuperhatikan semua orang di sini sama sekali tak ada yang menggunakan alas kaki , mereka berjalan nyeker di atas permukaan batuan hitam yang menjadi daratan dari kampung ini.
Aryo : " kita sampai di griyo nogo iki "
Renggo : " vig , lu belum pernah lihat naga kan ?! "
Me : " emang ada naga di sini ?! "
Renggo : " ya di dalem griya naga ini vig naganya "
Aryo : " benar mas "
Di hadapanku tampak sebuah bangunan megah yang sekilas mirip dengan kediamannya Ki Joko Bodo , dengan bersemangat Aryo mengajak kami masuk melalui pintu utama yang diapit arca naga di kiri kanannya.
Aryo : " monggo masuk !!... jangan takut mas ! "
Renggo : " santai vig , naganya jinak kok "
Me : " ??? "
Dengan rasa gamang aku melangkah memasuki Griya Naga ini , begitu di dalam kudapati sebuah ruangan yang begitu luas mirip dengan gelanggang olahraga , sementara belasan sangkar besi berukuran besar tampak tergantung rantai di langit langit ruangan ini... yang membuatku terperanjat adalah saat kudapati belasan ekor naga yang meringkuk di dalam sangkar sangkar itu , ukurannya kurang lebih sama dengan komodo atau buaya tapi ekornya lebih panjang.
Me : " iitu naga bang ?!?... kok dikurung sangkar gitu ?! "
Renggo : " di sini naga itu dianggep kayak burung vig "
Me : " ?!? "
Aryo : " iki nogo nogo yang kami tangkap di sekitar waduk , macem macem mas jenise "
Kini Aryo berjalan menuju tengah tengah ruangan , di sana terdapat sebatang tuas besi yang cukup panjang dan ketika Aryo menariknya semua sangkar besi yang tergantung rantai di langit langit ruangan mulai turun secara perlahan.
Aryo : " sini !!!... monggo lihat nogo nogo iki mas ! "
Renggo : " oyi yo !! "
Kali ini aku benar benar terpana menatap belasan naga yang berada di hadapanku , siapa sangka jika makhluk yang kukira hanya ada di mitos ini ternyata benar benar nyata.... naga naga ini wujudnya mirip dengan naga di komik 'Dragon Ball' warna sisiknya kehijauan , tanduknya mirip rusa serta memiliki 4 kaki yang mirip cakar rajawali , sementara matanya berwarna kemerahan dan mulutnya dihiasi taring taring tajam " hhss !!..... hhss !!... hhss !!... " sesekali terdengar desis suaranya dan disertai dengan juluran lidahnya yang bercabang.
Renggo : " di sungai kapuas juga ada naga vig , tapi lebih gede lagi... namanya puake antu laot "
Me : " ?!?! "
Aryo : " di kota malang juga ada nogo raksasa , ada di terowongan bawah monumen "
Me : " ?!?! "
Mendengar apa kata Aryo barusan langsung membuatku teringat dengan cerita tukang becak soal ular gaib yang menghuni terowongan bawah monumen Juang , bagaimana bisa Aryo juga tahu keberadaan ular yang katanya berukuran raksasa itu.
Me : " ular itu ada di terowongan bawah monumen yo ?! "
Aryo : " benar mas , jenenge nogo tunggulwulung , umure 1000 tahun lebih "
Renggo : " ular itu dari sini juga kan yo ?! "
Aryo : " bukan , nogo itu penghuni sendang ken dedes nggo "
Me : " kenapa sekarang pindah ke malang ?! "
Aryo : " dulu ular itu dipelihara prabu ken arok , setelah moksa ular itu ditinggal di malang , diperintah menjaga kekuasaan prabu ken arok di alam kasukman "
Renggo : " kenapa ngga ditangkep aja yo ?! "
Aryo : " maaf nggo , kami menghormati nogo itu karena prabu ken arok dulu memeliharanya "
Pusing juga mendengar penjelasan Aryo barusan , ternyata ular naga raksasa itu berusia 1000 tahun lebih dan pernah dipelihara Ken Arok sang raja kerajaan Singosari... sungguh rumit bagiku untuk mencerna semua ini , entahlah masa bodo amat dengan Ken Arok dan naga peliharaannya itu.
Renggo : " ini naganya udah dikasih makan yo ? "
Aryo : " belum , makannya tiap malam jumat kliwon saja nggo "
Me : " makanannya apa yo ? "
Aryo : " nogo nogo iki makan siluman "
Me : " makan siluman ?! "
Renggo : " yo bisa ngga nganter kita lihat silumannya ?!... dulu katanya ada di bawah sini kan penjara silumannya ? "
Aryo : " iyo iso nggo , sepurane dulu aku tidak pernah mengajak kamu masuk ... pangkatku dulu masih rendah jadi tidak boleh masuk "
Aku merasa bingung sendiri dengan penjelasan Aryo tadi , kupikir naga naga ini makan ikan atau sayuran namun ternyata makanannya adalah siluman... kini Aryo mengajak kami berdua turun ke bawah Griya Naga ini melalui anak tangga di sisi kanan ruangan.
Aryo : " kami sering berburu siluman sekitar waduk iki "
Me : " macem macem yo silumannya ? "
Aryo : " monggo lihat saja ! "
Kini kami tiba di ruangan bawah tanah yang agak gelap dan dipenuhi jeruji besi mirip penjara , di dalamnya berisi bermacam sosok siluman seperti siluman macan , monyet , buaya putih , perempuan setengah ular dan juga perempuan setengah kuda... anehnya semua siluman itu dalam keadaan terkulai lemas dan tak bergerak sedikitpun.
Aryo : " nogo tadi makan siluman iki tiap malam jumat kliwon "
Me : " kenapa kok lemas semua silumannya ? "
Aryo : " silumane iki tidak kuat berada di alam kami "
Renggo : " maksudnya gak kuat di alam astral lapisan tengah vig , kan aslinya mereka makhluk lapisan bawah "
Melihat wujud siluman yang bermacam macam ini membuatku merasa aneh sendiri , ternyata makhluk makhluk yang biasa kudengar dari mitos masyarakat ini benar benar nyata adanya... semua ini sungguh membuatku merasa heran dan aku hanya bisa terpana memandanginya.
Aryo : " bagaimana ?!.. kita keluar sekarang ?! "
Renggo : " ya udah yo "
Segera saja kami menaiki anak tangga dan kembali lagi ke ruangan tadi , sejenak si Aryo menggerakkan tuas besi di tengah tengah ruangan lalu semua sangkar naga mulai terangkat dan tergantung lagi di langit langit ruangan.
Kini kami telah keluar dari Griya Naga dan berada di sebuah gazebo dengan atap joglo yang letaknya tak jauh dengan menara pengawas , sekilas kuamati menara yang tingginya sama dengan menara masjid itu dan di atasnya tampak seorang penjaga yang membawa busur panah.
Me : " itu prajurit juga yo ? "
Aryo : " benar mas , kadang aku yo menjaga menara "
Tak lama kemudian datang seorang gadis yang mengenakan kemben jarik dan membawa nampan yang diturunkannya di hadapan kami , ternyata nampan itu berisi beberapa wajik ketan berwarna hijau dan juga 3 mangkuk dawet.
Gadis : " monggo mas !!... iki suguhane tamu , monggo sekecaaken ! "
Me : " oh suwun "
Renggo : " sebenernya kita ngga laper yo "
Aryo : " iyo tapi monggo cicipi ketan ketan iki.. tamu yang datang ke sini harus makan ketan iki , makanan khas kampung tirta naga iki mas "
Me : " oh ?! "
Renggo : " aku dulu udah pernah makan yo , rasanya manis banget "
Aryo : " ha.. ha.. enak lho wajik iki , ayo dimakan nggo ! "
Renggo : " ya udah yo , eh vig ayo kita makan ketannya ! "
Sebenarnya sukma kami tidak pernah merasakan lapar atau haus , yang bisa dirasakan sukma hanyalah rasa dari makanan dan minuman di alam astral.... secara sederhana bisa dibilang sensasi rasa makanan atau minuman dirasakan oleh sukma sementara rasa lapar dan haus hanya dirasakan oleh tubuh fisik saja.
Me : " manis banget bang , kayak geplak jogja "
Renggo : " gw juga gak tahan manisnya "
Aryo : " ayo makan aja mas ! "
Karena merasa tak enak dengan keramahan Aryo akhirnya kuhabiskan sebiji wajik ketan yang rasanya terlalu manis ini dan kemudian kuseruput semangkuk dawet lagi.... entah kenapa warga kampung ini suka sekali minum dawet seperti halnya gadis yang kutemui tadi.
Renggo : " dah abis yo , sekarang kita mau pulang "
Aryo : " pulang sekarang nggo ?!.. opo tidak mau lihat ludruk nanti malam ? "
Renggo : " gak yo , aku ada urusan di alamku "
Aryo : " yo wes nggo , matur suwun wes mengunjungi kampungku iki nggo... kapan kapan ke sini lagi ya ?! "
Renggo : " gampang yo , ayo vig !! "
Me : " moleh disek yo !!.. suwun "
Aryo : " nggeh sami sami mas "
Selepas berpamitan dengan Aryo kami berdua langsung terbang beberapa meter di atas kampung Tirta Naga ini , sementara di bawah tampak Aryo yang sedang berdiri menatap kami sambil mengangkat tombaknya tinggi tinggi.
Renggo : " vig , kita balik lagi ke lapisan bawah , sekarang lu yang bikin portalnya ! "
Me : " emang gw bisa bikin portal ?! "
Renggo : " arahin tangan lu ke bawah trus niat mau balik ke lapisan bawah "
Jika tadi Bang Renggo yang menciptakan portal untuk masuk ke lapisan tengah ini maka sekarang giliranku untuk melakukan hal yang sama , sesuai instruksi Bang Renggo lekas kuarahkan kedua telapak tanganku ke bawah dan kuniatkan untuk kembali ke alam astral lapisan bawah , ajaibnya langsung tercipta sebuah lobang portal tepat di bawah kakiku.... dengan praktik ini sekarang aku mengerti bagaimana caranya melakukan perpindahan antar lapisan alam astral , ternyata tak sesusah yang kubayangkan.
Renggo : " ayo turun masuk portal ! "
Me : " oke "
Segera saja kami berdua memasuki lobang portal dan tibalah kami di alam astral lapisan bawah lagi , dalam sekejap portal itu menghilang dan kami mendapati suasana waduk yang tampak gelap dan sunyi seperti semula..... di hadapan kami tak ada lagi perkampungan Tirta Naga melainkan hanya hamparan permukaan air waduk yang tampak tenang.
Renggo : " balik sekarang ya ?! "
Me : " oke "
Renggo : " pegangin tangan gw ! "
Lekas saja kugenggam tangan kiri Bang Renggo lalu " wuuzzz !!! " dalam sekejap sukma kami melesat dengan kecepatan tinggi dan segalanya tampak kabur , hingga tanpa kusadari sekejap kemudian kami telah melayang di atas komplek perumahan Dieng Tidar.
Renggo : " ayo balik ke badan ! "
Me : " oyi "
Dengan meniatkan kembali ke badan seketika sukmaku turun menembus atap rumah dan kemudian keadaan tampak gelap , ketika kubuka mata aku telah berada di dalam kamar dengan keadaan duduk bersila.
Me : " fuhh !!... kayak ngimpi ya bang ?! "
Renggo : " ha.. ha.. kayak ngimpi ya vig ?!... udah gak usah nggumun lu , kampung tadi belum ada apa apanya sama wentira "
Me : " ha.. ha... gila masih gak percaya gw "
Ketika dalam kondisi sadar seperti ini rasanya sangat sulit untuk mempercayai apa yang kualami tadi , terasa seperti mimpi namun juga terasa sangat nyata sekali.
Renggo : " pengen ngerokok gw , kita tiduran di sofa aja deh "
Me : " oke bos "
Segera saja kami berdua beranjak keluar dari kamar dan kemudian rebahan santai di sofa , sambil merokok aku termenung dan terus terbayang bayang dengan segala yang kujumpai di kampung Tirta Naga tadi , semuanya sungguh membuatku takjub luar biasa hingga aku kesulitan mengungkapkan dengan kata kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar