Jadi seperti ini rasanya menyelam di lautan secara astral , tak ada bedanya dengan saat terbang di angkasa... aku bisa menggerakkan sukmaku secara normal bukan seperti orang yang sedang menyelam , anehnya lagi baju dan celanaku tidak basah sama sekali , bahkan aku tidak merasakan air menyentuh kulit dan rambutku.
Me : " aneh stiv , kok ngga kerasa airnya ?!.. kita juga ngga basah "
Steve : " ini lapisan atas mas , airnya cuma kerasa pas mau nyebur tadi aja , kalo udah nyelam gak kerasa lagi "
Lala : " iya kak , biasa aja kan rasanya ? "
Di saat aku masih terheran heran dengan kondisi aneh ini si Lala langsung mengajakku menuju ke kapal yang karam , dengan santai aku melayang mengikutinya sembari melihat lihat suasana di dalam lautan ini... ada banyak sekali gerombolan ikan kecil yang berenang kesana kemari dan juga ubur ubur putih yang menghiasi sana sini , sempat kulihat pula ikan pari berukuran besar yang berenang dengan anggun sebelum akhirnya hilang entah kemana.
Steve : " ini masih dangkal mas lautnya , baru 3 kilometeran dari pantai "
Me : " kalo kerajaan penguasanya ada ngga stiv ?! "
Steve : " ada tapi masih jauh banget , sekitar 20 kilometeran dari pantai "
Me : " trus mana kapalnya ?! "
Steve : " bentar lagi kelihatan "
Kami bertiga terus melayang sambil mengamati suasana di dalam lautan , hingga akhirnya beberapa meter di hadapan kami mulai terlihat sebentuk kapal berukuran super besar , sementara bagian bawah kapal itu tampak memijak dasar lautan yang tak terlalu dalam.... ketika jarak kami semakin dekat barulah kusadari bahwa kondisi kapal itu tidak mengalami kerusakan sama sekali , kayu kayunya masih tampak mulus sementara cat merah di lambung kapal juga tidak luntur sedikitpun , begitu juga dengan huruf huruf Cina berwarna keemasan yang tampak menghiasi sisi depan.
Me : " gila stiv ?!... gede banget kapalnya ! "
Steve : " itu baru kapal pengiringnya , belum kapalnya cheng ho sendiri "
Lala : " paling kapalnya cheng ho segede kapal perang amerika kak "
Kini kami telah berada tepat di sebelah kapal besar ini dan ternyata kapal ini tidaklah kosong , kulihat di bagian dek ada beberapa orang yang wira wiri ngga jelas pada ngapain , mereka mengenakan ikat kepala warna merah dan juga celana warna hitam , tanpa baju yang menutupi badan.
Me : " itu siapa la ?! "
Lala : " itu abk kak "
Me : " ngapain mereka ?! "
Lala : " pada maen bentengan kak , tiap hari kayak gitu kok kerjaannya "
Me : " maen bentengan ?! "
Aku cukup tercengang mendengar penjelasan Lala barusan , bagaimana bisa para abk itu menghabiskan waktunya di dasar laut dengan bermain bentengan ?!?.... aku benar benar merasa aneh dengan semua ini.
Lala : " turun sekarang ya kak ?! "
Me : " kalo kita ditangkep gimana ?! "
Lala : " mereka semua baik kok , aku sering maen kemari kak... lagian si cao udah nunggu kita tuh "
Me : " cao ?!.. cao siapa ?!.. es cao ?! "
Lala : " bukan , tuh liat abk yang duduk di tong kayu ! "
Entah siapa sosok yang dimaksud oleh Lala , kulihat di antara tumpukan tong kayu tampak seorang pria yang tengah duduk lesehan sambil menyoraki rekan rekannya yang asik bermain bentengan... jadi pria itu yang namanya Cao.
Lala : " kita turun di tong kayu kak ! "
Me : " eh iya la "
Tanpa berlama lama kami mulai mendekati dek kapal dan kemudian mendarat di atas tumpukan tong kayu , tepat beberapa meter di sebelah pria bernama Cao itu " shàngyǐn !!... shàngyǐn cao !!.. " teriakan Lala seketika membuat Cao menoleh ke arah kami , segera saja ia berdiri dan kemudian berjalan tergopoh gopoh menghampiri Lala.
Cao : " zìyóu chen !... zìyóu !.. "
Lala : " jiǔni úyī máo suǒài "
Cao : " jiàn guàn xiū xiǎng "
Selama beberapa menit mereka ngobrol berbahasa Cina dan aku sama sekali tak mengerti apa isi obrolannya , kini aku dan Steve hanya celingukan saja mengamati suasana di dek kapal yang tampak ramai ini.... selain para abk yang tengah bermain bentengan ada juga beberapa kakek kakek berkostum khas Cina , mereka tengah duduk bersila di salah satu sudut kapal sembari asik bercengkrama , sesekali mereka juga menuang minuman dari teko putih kecil.
Me : " ini orang cina semua stiv ?! "
Steve : " iya , anak buah cheng ho semua "
Me : " kayak di film ya stiv ?! "
Cukup lama kami berdiri di atas tumpukan tong kayu ini sebelum akhirnya Lala dan Cao mengajak kami berjalan menuju bagian belakang kapal ini , di sana terdapat jendela jendela berkaca hijau dan juga sebuah pintu besar bercat merah dengan ukiran naga berwarna keemasan.
Me : " kenapa sih la kapal ini kok bisa masuk dimensi astral ?! "
Lala : " kan udah aku bilangin kalo cheng diserang sunang bonang pas mau ndarat "
Me : " kenapa bisa diserang ?! "
Lala : " kan sama sunan bonang dikira kapal portugis trus langsung ditembakin pake meriam "
Steve : " salah paham doang sih mas , cheng ho kan gak niat njajah "
Lala : " kan kapal ini jangkarnya gak bisa ditarik kak , udah ketinggalan sama rombongannya , trus sama penguasa laut ini dipindahin ke dimensi astral biar selamet , daripada ancur ditembakin meriam "
Me : " napa kok gak dibalikin ke dimensi fisik lagi ?! "
Lala : " kalo soal itu aku gak tau kak "
Sambil berjalan mataku terus mengamati para abk yang tengah asik bermain bentengan , teriakan penuh semangat tak henti hentinya terdengar sementara raut muka mereka tampak riang gembira.
Cao : " qĭng shāo dĕng zhè shì nín de qián "
Lala : " wŏ tiān hăo duì huàn "
Kini kami tiba tepat di depan pintu besar bercat merah yang dihiasi ukiran naga keemasan , sekilas mirip pintu klenteng namun ukurannya sekitar 8 meteran.
Lala : " nín yào huàn duō shăo ? "
Cao : " wŭ băi měi yuán "
Lala : " láo jià, wŏ xiăng bă měi yuán "
Sejenak Cao bercakap cakap dengan Lala sebelum akhirnya ia membuka pintu besar ini dengan cara mendorongnya , kini terlihatlah ruangan yang ada di bagian belakang kapal ini dan seketika membuatku takjub saat memandangnya.
Dengan langkah agak gamang aku memasuki ruangan yang cukup luas ini , dekorasi khas Cina tampak menghiasi sana sini hingga membuatku serasa berada di klenteng... ada 4 patung naga besar berwarna emas yang terpajang di tiap sudut , sementara pilar pilar besar bercat merah menyangga langit langit ruangan ini , belum lagi ada beberapa lukisan dan kaligrafi Cina yang terpasang di dinding.
Me : " keren stiv , kayak klenteng "
Steve : " ini ruangan diplomasi mas , tiap ngunjungin negara manapun pasti wakilnya negara itu diundang ke sini trus diajakin makan sambil ngobrol "
Di ruangan ini juga terdapat banyak perabotan beraneka jenis , ada meja oval berukuran cukup besar yang dikelilingi 8 buah kursi , ada juga sebuah kecapi , bokor kuningan dan puluhan lilin merah yang terpasang di altar , di situ juga terdapat patung laksamana Cheng Ho seukuran manusia.
Cao : " chī diǎn dōng xi ba ? "
Me : " what ?!?.. "
Cao : " ha.. ha.. ha.. "
Aku tak mengerti apa yang dikatakan Cao padaku , kini ia tertawa terbahak bahak melihat reaksiku yang kebingungan.
Me : " eh aku iki wong jowo , ojo dijak ngomong boso cino... ra mudeng aku "
Cao : " ha.. ha.. ha.. "
Lala : " ha.. ha.. cao bilang mau ngajak kita makan sama minum teh , tapi kita mesti nonton dia maen musik "
Steve : " maksudnya kita makan sambil nonton dia maen guzheng mas "
Me : " guzheng ?! "
Lala : " itu alat musik di deket altar namanya guzheng kak "
Me : " oh kecapi cina ?! "
Keramahan yang ditunjukkan Cao sama dengan yang kurasakan sewaktu mengunjungi kampung Tirta Naga di waduk Karang Kates dulu , kini ia mempersilahkan kami duduk di kursi yang mengelilingi meja oval besar , sebelum akhirnya ia menuruni anak tangga yang berada di sebelah kiri altar.
Me : " cao mau kemana la ?!.. katanya mau maen musik ? "
Lala : " dia mau ke dapur , mau nyuruh pelayan buat masakin makanan buat kita "
Steve : " enak kok mas , kayak di resto cina "
Lala : " mamas tuh sukanya tom yam , kalo aku bebek tse chuan "
Me : " trus bahan masakannya dari mana ?!.. kok bisa dapet bebek ?! "
Steve : " itu para abk yang tugasnya nyari bahan makanan mas , ya mereka berburu bebek ke daratan "
Me : " bebek asli apa bebek astral ?! "
Steve : " bebek asli , tapi didematerialisasi molekul atomnya "
Sebagai sukma sebenarnya kami tak merasakan lapar atau haus , apa yang kami konsumsi di alam astral hanyalah sensasi kelezatan rasanya saja dan tidak menghasilkan efek kenyang sama sekali karena memang sukma tidak pernah merasa lapar.
Lala : " tuh pelayannya pada keluar ! "
Me : " ?!?! "
Dari anak tangga dekat altar mulai bermunculan para perempuan berbaju khas Cina , mereka membawa nampan nampan yang berisi hidangan menggiurkan dan kemudian diturunkan satu persatu di atas meja oval ini " nǐ xǐ huān shēng de !... zhōng děng shóu de !... " dengan tutur kata berbahasa Cina mereka mempersilahkan kami untuk makan , sebelum akhirnya mereka kembali menuruni anak tangga.
Lala : " wangi banget aromanya kak "
Me : " buset stiv ?! "
Steve : " pilih sendiri mas ! "
Steve telah mengambil seporsi tom yam sementara Lala meraih sepiring bebek tse chuan , aku sendiri masih bingung mau makan apa enaknya.
Lala : " ayo kak pilih yang mana ?!"
Me : " bingung la , nyobain cwie mie aja deh "
Daripada kelamaan bingung kuputuskan untuk menyantap semangkuk cwie mie saja , sekilas tampak mirip dengan cwie mie yang biasa kumakan namun isinya adalah potongan udang dan rajungan , sementara sausnya berwarna kehitaman dan agak encer saat kutuang ke dalam mangkuk... segera saja aku menyantapnya dengan menggunakan sumpit dan ternyata rasanya enak juga , tak beda dengan cwie mie yang biasa kumakan di depot Chinese food.
Me : " si cao katanya mau maen musik ? "
Lala : " dia masih ganti baju kak "
Me : " pake ganti baju segala la ?!.. gaya amat tu orang "
Hidangan telah habis kami santap , kini hanya tersisa sebuah teko berbahan keramik putih yang ternyata berisi teh hijau... dengan hati hati Lala menuangnya ke dalam cangkir cangkir kecil yang kemudian ia bagikan padaku dan juga Steve , sambil menyeruput teh kami terus berbincang hingga akhirnya si Cao kembali ke ruangan ini , kali ini ia mengenakan baju warna putih yang mirip dengan Wong Fei Hung , apalagi model rambutnya juga sama persis.
Cao : " guǎn chī diǎn dōng xi ba ? "
Lala : " ào chuāng hù de wèi zi "
Dengan santai ia berjalan ke arah altar dan kemudian duduk bersila di depan patung Cheng Ho " wèi dào bǐ jiào xiān " sesaat ia tersenyum pada kami dan bersiap memainkan alat musik petik khas Cina itu.
Tak ada yang lebih nikmat selain duduk di sini sambil menyeruput teh hijau dan menikmati permainan musik Cao " ting !.. tang !.. teng !... ting !.. tang !... teng !... " merdu terdengar nada nada itu hingga membuat kami merasa terbuai , jemari Cao dengan lincah memetik dawai dawai guzheng sementara kedua matanya terpejam menghayati permainan musiknya.
Lala : " pinter kan mainnya cao "
Me : " iya la hebat , kayak kitaro "
Begitu larut kami menikmati musik yang dimainkan Cao hingga akhirnya ia memungkasi pertunjukannya yang berdurasi cukup lama , kini ia mulai berdiri sambil membungkukkan badan pada kami " plok !.. plok !.. plok !... " segera saja kami memberikan tepukan tangan padanya " xie xie... " sekejap kemudian Cao meninggalkan altar lalu kembali menuruni anak tangga di dekat patung naga , sebelum akhirnya ia kembali muncul dengan mengenakan ikat kepala merah dan celana hitamnya tadi.
Lala : " tóu shàng hóng guān bú yòng cái "
Cao : " shēn xuĕ bái zŏu jiāng lái "
Entah apa yang dibicarakan oleh Lala dan Cao , tak satupun dari kata kata itu yang kumengerti artinya.... aku dan Steve hanya termangu saja mendengar percakapan mereka.
Steve : " ini belum seberapa sih mas "
Me : " maksud lu ? "
Steve : " di ruangan bagian bawah katanya ada macem macem "
Me : " macem macem ?! "
Steve : " lala yang udah pernah masuk tapi aku belum soalnya gak dibolehin "
Me : " ada harta karunnya ya stiv ?! "
Steve : " banyak artefak dari negara yang beda beda mas "
Kata Steve kapal ini juga menyimpan bermacam artefak dari negara yang berbeda beda , namun Cao tak mengajak kami melihatnya meskipun sebenernya kami merasa penasaran , ia malah mengajak kami kembali ke dek kapal.
Me : " di dalem kapal ini ada artefaknya ya la ? "
Lala : " buanyak kak , kan aku udah pernah turun ke bawah "
Me : " kok kita sekarang gak diajakin juga ? "
Lala : " kalo baru sekali dua kali ke sini ya belum dibolehin kak , mamas aja gak boleh masuk "
Kini kami telah berada di dek sementara Cao memanggil seorang kakek kakek yang tengah duduk di sudut kapal , sepertinya ia tengah menyuruh kakek itu untuk melakukan sesuatu.
Lala : " kita mau dikasih oleh oleh "
Me : " oleh oleh ?! "
Lala : " iya kak "
Me : " baik banget la , emas batangan ya oleh olehnya ?! "
Lala : " bukan kak , liat aja sendiri "
Aku merasa Cao terlalu berlebihan memperlakukan kami bak tamu agung , setelah tadi dijamu makanan khas Cina kini ia mau memberi kami oleh oleh juga... kulihat kakek itu berjalan kembali ke sudut kapal lalu ia membuka peti kayu yang teronggok di sana , sebuah besek besar dikeluarkan dari dalam peti itu dan kemudian dipeganginya erat erat sambil berjalan kemari , sebelum akhirnya ia menyerahkan besek besar itu pada Cao.
Cao : " shēng bù gǎn qīng yán yǔ "
Lala : " yí jiào qiān mén wàn hù kāi "
Sambil tersenyum Cao menyerahkan besek besar itu pada Lala dan kemudian ia menyalami kami satu persatu " xiōng dì... xiōng dì... xie xie... " aku hanya bisa senyam senyum membalas keramahannya.
Lala : " kita balik sekarang ya kak ?!.. kapan kapan kita ke sini lagi "
Me : " iya , ini udah cukup la "
Perlahan kami melayang di atas kapal ini sementara Cao menatap kami sambil melambaikan tangannya " lǎo xiōng !!... lǎo xiōng !!... " terima kasih atas keramahannya Cao , suatu saat kami pasti akan mengunjungi kapal ini lagi.
Sebuah lobang portal yang memancarkan cahaya jingga kekuningan telah tercipta di bawah kaki Lala , segera saja kami memasukinya dan kembali lagi ke lapisan tengah dimensi astral... langit tak lagi hijau kebiruan tapi telah berubah jadi jingga kekuningan , sementara tiang kapal yang menyembul dari permukaan laut kini telah raib tak terlihat lagi.
Lala : " langsung balik aja ya mas ? "
Steve : " iya yang , mamas udah capek "
Sekejap kemudian Lala telah menciptakan lobang portal lagi di bawah kakinya , lekas saja kami memasukinya dan kembali lagi ke lapisan bawah dimensi astral.... kini langit tampak gelap gulita karena hari telah malam.
Steve : " mas vig , tolong bawain oleh olehnya ! "
Me : " oke , sini stiv "
Kini kupegang besek besar ini sementara Steve berbincang dengan Lala , sebelum akhirnya mereka berpelukan erat sambil berciuman " uggh !!.. " lebih baik aku menyingkir saja , kubiarkan sepasang sejoli itu menghabiskan sisa waktunya secara pribadi.
Kini aku duduk kembali di pagar tembok sambil memegangi besek besar ini , sementara Steve dan Lala masih melayang layang di tepi pantai sambil berpelukan , enak juga kalo punya pacar yang bisa ngastral , mesra mesraannya bisa sambil terbang.... daripada iri melihat mereka kuputuskan untuk membuka besek besar ini karena aku penasaran ingin tau apa isinya , perlahan aku mulai mengangkat besek bagian atas dan seketika tercium aroma aneh yang menusuk hidung , sebelum akhirnya terlihat apa isinya.... tampak belasan biji buah seukuran apel yang berbentuk bulat bulat , sementara kulitnya berwarna coklat tua dan terasa keras seperti batok kelapa.... aku benar benar tak tau apa nama buah ini , jangan jangan buah ini adalah kesukaanya jin dan hanya tumbuh di dimensi astral.
Aku masih terheran heran mengamati buah ini sebelum akhirnya Steve dan Lala ikutan duduk di sebelahku , lekas saja kutanyakan nama buah ini pada Lala.
Me : " ini buah apaan la ?! "
Lala : " ini buah kawis namanya kak "
Me : " kawis ?!.. baru denger gw "
Lala : " yah ndeso amat sih kak kawis aja gak tau.. "
Steve : " itu enaknya dipake buat sirup mas "
Lala : " kayak alpukat gitu kak , ntar isinya disendokin trus dimasukin gelas "
Me : " gitu ya la ? "
Lala : " seger banget pokoknya kak , mamas aja suka "
Steve : " ini buah khasnya daerah rembang kok mas "
Me : " kirain buahnya jin stiv "
Lala : " ha.. ha.. ha.. "
Ternyata buah ini hanyalah buah biasa dan aku penasaran seperti apa rasanya jika dibikin sirup , namun aku bingung bagaimana caranya membawa buah ini ke dimensi fisik.
Me : " kita gimana bawanya stiv ?! "
Steve : " ntar langsung materialisasi otomatis pas kita balik , molekul atomnya langsung jadi kasar "
Lala : " mamas bawa aja semuanya ya , kalo aku kan bisa beli di pasar "
Steve : " iya iya yang , ntar aku bagi sama mas vigo "
Me : " gak sabar pengen nyobain la "
Lala : " dijamin bakal ketagihan kak , ya ngga mas ?! "
Steve : " iya dong "
Malam telah beranjak semakin larut dan kurasa sudah waktunya untuk pulang , kini kubiarkan Steve memeluk pacarnya lagi sebelum kami balik ke Malang.
Lala : " ntar giliran aku yang ngastral ke malang ya kak "
Me : " iya , ntar aku ajakin ke kampung tirto nogo "
Lala : " tirto nogo ?!.. pasti asik ya kak ?! "
Me : " keren pokoknya la "
Steve : " mamas balik dulu yang , cepet bobok biar besok gak telat sekolah ! "
Lala : " iya mas "
Aku dan Steve mulai melayang beberapa meter di atas pagar tembok sementara Lala terus melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum manis , sekejap kemudian " wuuuzzzz !!!! " keadaan menjadi blur selama beberapa detik sebelum akhirnya normal kembali... kini aku dan Steve telah kembali ke tubuh fisik masing masing yang tengah bersila di dalam kamarku , sementara besek besar yang dibawa Steve kini telah tergeletak di atas karpet.
Me : " stiv ?!.. buah kawisnya tuh !! "
Steve : " kita beli es batu dulu mas trus buahnya dibikin sirup "
Biasanya selepas melakukan astral projection kami jadi kehausan , untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang kamipun berniat membuat sirup dari buah kawis ini.... entah aku tak tau seperti apa rasanya , yang jelas aku sudah tak sabar ingin mencicipinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar