Waktu telah menunjukkan jam setengah 4 pagi ketika aku dan Danang beranjak meninggalkan Eric yang telah tertidur , sambil menyetir aku berbincang dengan Danang dan mencoba memikirkan solusi terbaik bagi Eric.
Me : " gw pusing sama si eric , masak kita biarin dia kayak gitu terus ?! "
Danang : " gw gak tega juga dia kayak gitu vig , tapi kita mesti gimana dong ?! "
Me : " shit !!!.. gw juga gak tau mesti gimana sekarang ini "
Danang : " ya udah biarin aja dulu vig "
Sejujurnya saat ini aku merasa frustasi sendiri , ingin menolong tapi tak tau harus bagaimana , kini dengan kesal kuinjak pedal gas lalu ngebut sekencang kencangnya melintasi jl Sukarno Hatta yang tampak lengang.
Danang : " gw nginep kosan lu aja vig "
Me : " oyi "
Tak sampai 15 menit kemudian aku telah tiba di kosan , setelah memarkir mobil kuajak Danang ke kamar dan kami sama sekali tak bisa memejamkan mata... entah kenapa pikiran kami terus terbayang bayang dengan Eric.
Danang : " steve bisa gak ya vig bantuin eric ? "
Me : " steve ?! "
Danang : " lu inget gak pas dia bikin maling motornya si yohana hilang ingatan ?!... pas dia tangannya keluar asap trus mukul punggungnya maling yang kita pegangin "
Me : " inget gw nang "
Danang : " kita suruh aja steve gituin si eric , biar dia lupa soal keluarganya sama soal adeknya "
Me : " tapi kan ntar jadi amnesia total si eric , gak inget kita lagi "
Danang : " waduuh gimana ya vig ?!.. malah repot ya ntar urusannya "
Me : " gw beneran bingung mesti gimana nang "
Ide si Danang untuk menghapus ingatannya Eric kurasa bukanlah solusi yang tepat , justru malah akan menjadi masalah baru jika Eric sampe amnesia total... entahlah aku benar benar tak tau harus bagaimana dengannya.
Secercah cahaya sudah cukup menjadi titik cerah dan pengharapan untuk memulai kehidupan baru yang indah , tapi bagi Eric yang terperangkap dalam kepekatan tiada akhir cahaya itu tak pernah ada... seperti biasanya ia tetap menjalani hari demi hari dalam kelam , ia menikmatinya sebagai takdir yang tak adil dan tak terberkati.
Eric : " gw pernah mau bunuh diri vig "
Me : " ?!? "
Eric : " dulu banget gw nelen dumolit sebotol sama minum baygon "
Danang : " trus ?! "
Eric : " gw koma 2 hari di kontrakan , gak taunya gw gak mati... "
Danang : " gak usah bunuh diri lah ric , dosa bisa masuk neraka "
Eric : " bukannya sekarang gw udah ada di neraka nang ?! "
Danang : " ?!? "
Me : " udahlah ric "
Mendengar si Eric meracau membuatku tak tahan juga , apalagi efek kimiawi ganja membuatnya terlihat bagaikan filsuf sakit... kini ia mengeluarkan ponsel bututnya dari saku celana dan kemudian memutar sebuah lagu " I won't let you fall apart... I won't let you fall apart... " sejenak ia terpejam ketika lagu itu mengalun lirih dari speaker ponselnya , sementara raut mukanya tampak memancarkan penyesalan yang teramat dalam " I won't let you fall apart... I won't let you fall apart... " berkali kali lagu itu mengalun hingga akhirnya Eric tertidur , ia terlelap berselimut kegetiran dan juga kehampaan.
Kuhisap rokokku dalam dalam lalu dengan pelan kuhembuskan asap dari mulutku , sementara si Danang rebahan di sebelahku dan meraih ponselnya Eric.
Danang : " gw buka hapenya si eric vig , pengen tau tampang adeknya kayak apa "
Me : " emang ada fotonya ? "
Danang : " gw cari dulu nih "
Malam malam sebelumnya si Eric tak pernah sekalipun menaruh ponselnya di kasur , kini mumpung si Danang lagi memegangnya kurasa tak ada salahnya jika kami mencari cari foto adik perempuannya yang mati bunuh diri itu.
Danang : " ini vig , ada folder dikasih nama katrina "
Me : " emang katrina kan namanya ? "
Danang : " gw buka nih "
Sebuah folder bernama 'Katrina' pada akhirnya dibuka oleh si Danang , di dalamnya berisi puluhan file photo seorang cewe berumur 18 tahunan yang begitu cantik jelita... tatapan mata dan juga manis senyumannya seolah bagaikan mentari yang mencerahkan siapapun yang memandangnya.
Danang : " cakep juga ya vig ? "
Me : " iya , kayak shandy aulia nang mukanya "
Danang : " sayang ya vig cewe kayak gini mesti bunuh diri "
Ada cukup banyak photo yang disimpan di folder ini , beberapa di antaranya menunjukkan kebersamaan Eric dengan Katrina sejak jaman kanak kanak sampai dewasa... senyum , tawa dan keceriaan yang tampak di photo benar benar menunjukkan betapa eratnya hubungan mereka berdua , kakak beradik itu seperti seolah sedang berada di surga dimana tak ada duka dan hanya bahagia saja yang terasa.
Danang : " gw kalo liat gini jadi sedih juga vig "
Me : " sama nang "
Tak terasa waktu telah menujukkan jam setengah 3 pagi dan kami berdua sudah semakin tak kuat menahan kantuk , namun sebelum pulang entah kenapa timbul niat untuk mengcopy beberapa photo Katrina ke ponselku.
Danang : " ngapain vig ?!.. gak takut nyimpen photo cewe yang udah mati ? "
Me : " ngapain juga takut "
Danang : " eh vig kalo arwahnya dicari pake astral projection bisa gak tuh ? "
Me : " ngastral ?!.. gw baru kepikiran sekarang "
Danang : " bisa ngga ?! "
Me : " boleh juga kalo dicoba nang , kali aja bisa ketemu "
Gara gara ide si Danang aku jadi penasaran dan tertantang untuk menemukan arwah Katrina secara astral , lagipula selama ini aku cukup sering bertemu arwah gentayangan sewaktu melakukan astral projection... siapa tau aku benar benar akan dapat bertemu dengan arwah Katrina , jika hal itu terjadi mungkin aku bisa bertanya banyak hal padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar