ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar awal tahun 2011 ketika aku masih kuliah semester 8
Suasana kamar ini terasa berisik gara gara Niken dan beberapa teman kosnya teriak teriak menyanyikan lagu mars Arema yang diputar melalui tape compo " arema... arema... arema... singo edan pasti menang... satukan tekatmu... kobarkan semangatmu... aremanita selalu mendukungmu... " aku dan Pendik yang duduk di kasur hanya bisa tertawa geli melihat tingkah polah mereka , apalagi sambil bernyanyi mereka juga berjoget ria sesuka hati , tak lupa bermacam atribut Arema macam syal , topi dan jersey juga mereka kenakan.
Pendik : " ancene podo kurang gawean arek arek iki "
(emang pada kurang kerjaan anak anak ini)
Me : " ngisin ngisini nek didelok ndek youtube ndik "
(malu maluin kalo diliat di youtube ndik)
Entah bagaimana reaksi orang nantinya saat menonton tingkah polah cewe cewe itu , aksi konyol mereka sengaja direkam menggunakan ponsel dan si Niken berniat mengupload videonya ke Youtube... ia terinspirasi oleh Sinta dan Jojo yang videonya heboh tahun lalu.
Pendik : " iki njogete sek suwe a vig ?!... kapan marine ngene iki ? "
(ini jogetnya masih lama tha vig ?!... kapan kelarnya gini ini ?)
Me : " ngko nek wes podo kesel lak yo mari dhewe "
(ntar kalo udah pada capek juga kelar sendiri)
Cukup lama aku dan Pendik menunggui cewe cewe itu menyelesaikan aksi konyolnya , untung saja tak lama kemudian mereka segera menyanyikan bait terakhir sembari berangkulan
" kami aremanita... kami aremanita... salam satu jiwa... salam satu jiwa... " aksi konyol itupun berakhir dengan derai tawa penuh keceriaan , sementara muka mereka tampak basah bermandikan keringat.
Cewe A : " fuhh !!... sampe keringetan gini kita dev "
Cewe B : " tapi seru bingit ya ra.. ha.. ha.. "
Cewe C : " ha.. ha.. ntar aplotnya cepetan ea nik ! "
Niken : " iya iya , ntar malem tak aplot vir "
Satu persatu dari cewe cewe itu mulai keluar dari kamar ini sementara si Niken meraih ponselnya yang ditaruh di meja , dengan bersemangat ia memperlihatkan rekaman videonya pada kami.
Niken : " gokil kan vig aksi gw barusan ?! "
Me : " malu maluin lu nik , joget joget gak jelas aja direkam "
Niken : " ihh biarin , suka suka gw donk vig "
Pendik : " capek ngga nik joget joget gitu ? "
Niken : " ya capek lah ndik , tapi gw seneng puol wes "
Me : " eh nik udah mau jam 5 nih , ntar kita kemaleman ke mtd "
Pendik : " iyo nik , gek ndang ladub awake dhewe "
Niken : " iya iya deh gw mandi dulu kalo gitu , tungguin bentar ya guys ! "
Rencananya sore ini kami akan mengunjungi festival tahunan Malang Tempoe Doeloe (MTD) yang digelar di jl Ijen , di sana kami bisa menikmati suasana jadul kehidupan kota Malang sekaligus bernarsis ria dengan segala pernak perniknya.
Selepas maghrib kami segera menjemput Memet dan kemudian bergegas berangkat ke jl Ijen , dengan laju pelan kupacu mobilku melintasi jalanan Dinoyo yang tampak macet dan penuh sesak kendaraan.
Niken : " duh pake macet lagi jalannya "
Memet : " saiki rumangsaku kok soyo macet tha malang iki ndik , gak koyok mbiyen "
(sekarang menurutku kok makin macet tha malang ini ndik , gak kayak dulu)
Pendik : " uwonge soyo akeh met , aku yo mangkel saiki maleh macet koyok ngene iki "
(orangnya makin banyak met , aku juga jengkel sekarang jadi macet kayak gini ini)
Di dalam mobil kami hanya bisa menggerutu saja , kemacetan di kota ini terasa semakin parah daripada tahun tahun sebelumnya , kondisi jalanan yang terlalu sempit tak sebanding dengan jumlah kendaraan yang melaju dari 2 arah , alhasil dengan kesal kutekan klakson berkali kali " tinnn !!!... tinn !!... tinn !!... "
Niken : " bisa tua di jalan kalo tiap hari kayak gini ya vig "
Me : " fuhh !!.. "
Pendik : " iki terus po liwat gajayana vig penake ? "
(ini terus apa lewat gajayana vig enaknya ?)
Me : " terus ae ndik , gajayana soyo macet "
(terus aja ndik , gajayana makin macet)
Memet : " lha iki awake dhewe gak mangan disek tha vig ? "
(lha ini kita ngga makan dulu tha vig ?)
Pendik : " nakam ae kon iku met , ndek mtd lak yo akeh bakul panganan "
(makan aja kamu itu met , di mtd kan juga banyak penjual makanan)
Memet : " wo iyo yo ndik "
Selepas melewati pertigaan Dinoyo kami langsung bablas melintasi jl Mt Haryono , meskipun jaraknya lebih jauh tapi lalu lintas di sini tak sepadat di jl Gajayana , perjalanan kamipun jadi lebih lancar.
Niken : " gw bakalan kangen kota ini vig kalo ntar gw udah balik ke jambi , trus kita juga bakalan gak bisa kayak gini lagi "
Me : " nik ?!? "
Niken : " gak kerasa cepet banget ya vig "
Me : " udah gak usah ngomongin itu dulu "
Saat melintas di dekat jembatan Suhat si Niken yang duduk di sebelahku hanya diam membisu , matanya tampak berkaca kaca saat melihat suasana jalanan yang disinari temaram lampu lampu jingga , beberapa bulan mendatang mungkin ia tak lagi bersama kami di kota ini , segala yang kami jalani selama ini akan segera berakhir dan menjadi kenangan semata.... jujur saja aku sendiri sulit membayangkan jika saat itu tiba , yang kutau perpisahan selalu menumpahkan air mata.
Tiba di jl Ijen langsung kuparkir mobilku tepat di sebelah museum Brawijaya , suasana tampak begitu ramai dan penuh sesak oleh pengunjung yang sebagian besar ikut ikutan mengenakan pakaian jadul , sementara para pedagang kecil tak ketinggalan turut mengais rejeki dengan menggelar lapaknya di trotoar.
Memet : " ruame puol ndik ! "
Pendik " luweh rame timbang taun wingi yo met "
(lebih rame daripada tahun kemaren ya met)
Niken : " asik nih guys , gw udah niat mau belanja baju jadul "
Begitu meninggalkan parkiran kami berempat langsung berbaur dengan pengunjung lainnya mengelilingi booth booth yang didirikan di sepanjang jl Ijen ini , sesuai namanya yang mengangkat tema kehidupan kota Malang di masa lalu maka segala yang ada di sini tentu saja serba jadul dan tradisional.
Memet : " vig , iku ono sepeda onthel uakeh "
(vig , itu ada sepeda onthel buanyak)
Me : " ayo photo photo ! "
Memet : " oyi "
Langkah kami terhenti di sebuah booth yang didekorasi seperti rumah gedek , di dalamnya tampak puluhan sepeda onthel yang dipajang buat ajang bernarsis ria.... dengan penuh semangat kami berempat segera mengambil photo.
Niken : " pake slr kan enak met , ngapain pake hape "
Memet : " muantep iku nik , biar jelas photonya "
Untung si Niken membawa kamera slr sehingga photo photo yang kami ambil jadi tampak jelas , maklum saja semua booth di sini rata rata memasang lampu kuning temaram yang redup sehingga suasananya jadi agak gelap.
Niken : " kemana lagi neh guys ?! "
Pendik : " iku nik onok libom jadul , nggo photo kipa ilakes "
Niken : " yukz ke sono ! "
Kini kami berempat tiba di booth yang memajang beberapa mobil antik dari era kolonial Belanda , tanpa berlama lama kamipun bersiap untuk berfoto ria " slap !.. slap !... slap !... " terabadikan sudah pose pose kami di depan mobil mobil antik ini.
Pendik : " jamane bung karno iki libome met "
(jamannya bung karno ini mobilnya met)
Memet : " antik bentuke ndik "
Tak terlalu lama kami berada di booth mobil antik , kini si Niken mengajak kami ke sebuah stand yang menjual baju baju jadul... ada baju bergaya orang kampung , orang cina , hingga model khas meneer Belanda.
Niken : " duh gw muat gak ya vig make baju cina ini ? "
Me : " ngga muat nik , kekecilan "
Niken : " huff !!.. padahal gw pengen yang ini nih "
Memet " kalo aku pengen make baju wong ndeso nik "
Niken : " ya udah lu milih sono met , cocok tuh kalo lu pake blangkon "
Rasanya tak afdol jika di festival ini kami tak mengenakan baju baju jadul , kini kami mulai sibuk memilih milih baju yang sesuai dengan selera kami.
Pendik : " aku cocok ngga nik jadi meneer ? "
Niken : " pas tuh ndik , badan lu kan tinggi "
Me : " tapi kulitmu rodok ireng ndik "
(tapi kulitmu agak item ndik)
Pendik : " he.. he.. aku dadi londo gosong vig "
(he.. he.. aku jadi belanda gosong vig)
Kini kami berempat telah mengenakan baju baju jadul yang kami beli tadi , tak lama kemudian kami berphoto di sebuah booth yang dekorasinya bergaya kolonial , lengkap dengan berbagai perabotan antik khas Belanda.
Niken : " keren gw kalo gini met "
Memet : " ntar upload fesbuk ya nik ! "
Niken : " gampang met "
Setelah capek berkeliling akhirnya kami mampir di stand makanan bergaya tradisional yang menyajikan kuliner jadul khas Malangan , ada sate komoh , dawet beras , opak gambir , arbanat , kripik sagu hingga kerupuk pasir... sajian seperti ini tak akan bisa didapatkan dimanapun selain di festival MTD , tak heran kalau stand ini dipenuhi oleh orang orang yang mungkin merasa rindu dengan makanan favoritnya di masa lalu.
Pendik : " panganan jaman ebesku mbiyen met "
(makanan jaman bapakku dulu met)
Memet : " saiki gak nok seng dodolan yo ndik ? "
(saiki gak ada yang jualan ya ndik ?)
Pendik : " angel goleke met , aku kate mbungkus opak dinggo emesku "
(susah nyarinya met , aku mau mbungkus opak buat ibuku)
Dengan santai kami melahap makanan yang kami pesan sembari mengamati suasana stand yang didekorasi bak warung pedesaan ini , ada tungku dan perapian batu bata serta peralatan dapur yang semuanya terbuat dari kayu dan tanah liat.
Niken : " enak vig dawet berasnya , seger gimana gitu rasanya "
Me : " gw ngabisin sate dulu nik , ntar gw cobain "
Kelar acara makan kami berempat lanjut berkeliling dan tiba di panggung pertunjukan Ludruk yang dipadati penonton , di atas panggung tampak para pemain Ludruk yang mengenakan kostum tokoh pewayangan.
Niken : " gw males nonton gituan ndik "
Pendik : " aku yo aras arasen nik , ayo wes mlaku maneh rekk ! "
Tak satupun dari kami yang tertarik menonton Ludruk , segera saja kami lanjut berkeliling lagi sebelum akhirnya langkah kami terhenti di depan sebuah booth yang tampak seperti rumah angker.
Niken : " njiir ?!... ini booth horor ya vig ? "
Me : " kayaknya baru ini nik , dulu kan belum ada "
Memet : " medeni yo vig "
(serem ya vig)
Pendik : " ayo njajal mlebu rek ! "
(ayo coba masuk rek !)
Booth macam ini tak pernah kami jumpai pada penyelenggaraaan MTD tahun tahun sebelumnya , dengan antusias kami berempat masuk dan mendapati nuansa horror yang sangat kental... ada dupa menyan yang menyala dan menimbulkan bau menyengat , ada juga beberapa jelangkung dan tengkorak yang terpajang di tiap sudut , selain itu terdapat nisan nisan gabus dan juga dahan pohon kamboja yang menjadi dekorasi di dalam booth ini.... aura horror makin kental karena pencahayaan lampu temaram berwarna ungu dan juga lengkingan suara tawa kuntilanak yang sesekali terdengar dari speaker " iihhiii... iihhiihii.. iihhiii... iihiihii.. "
Niken : " niat amat bikin booth horor ya ndik ? "
Pendik : " itu malah ada orang make baju pocong sama kunti nik "
Memet : " jabang bayik ndik ?!... podo macak dadi demit "
(jabang bayik ndik ?!... pada dandan jadi demit)
Kami baru menyadari kalau pengunjung yang masuk ke booth ini ternyata sibuk berfoto dengan pocong , kuntilanak dan gendruwo palsu.... demit demit gadungan itu rela digilir oleh pengunjung yang kepengen photo bareng.
Niken : " ha.. ha... make up nya norak tuh "
Memet : " ayo kita ikutan photo bareng nik ! "
Niken : " yukz met , yang motoin elu vig ! "
Me : " oyi oyi "
Satu persatu dari kami mulai berpose bersama dedemit gadungan ini " slap !... slap !... slap !... " terabadikan sudah photo photo konyol yang siap dipamerkan di Facebook.
Niken : " ha.. ha.. buat lucu lucuan nih met "
Memet : " hua.. ha.. ha.. ngko tak pamerno bapakku , ben dikiro penampakan asli "
(hua.. ha.. ha.. ntar aku pamerin bapakku , biar dikira penampakan asli)
Pendik : " ha.. ha... ebesmu guling guling ngko met "
(ha.. ha.. bapakmu guling guling ntar met)
Me : " ha... ha... "
Kami terus tertawa melihat photo photo konyol ini , orang dengan gampang menjadikan makhluk dari alam gaib ini sebagai ajang hiburan atau lucu lucuan , tapi bakal lain ceritanya jika telah bertemu dengan sosok aslinya.... tak ada lagi pose narsis sambil tertawa , yang ada hanyalah kengerian disertai jeritan histeris saja.
Me : " kalo demitnya beneran si memet udah pingsan nik "
Niken : " ha.. ha.. bener tuh vig , lu kan penakut abis met "
Pendik : " hayo met !!... ngko mari ngene kon digoleki kunti lho , kate njaluk dirabi.. ha.. ha.. "
(hayo met !!... ntar abis ini kamu dicari kunti lho , mau minta dinikahin.. ha.. ha..)
Memet : " jabang bayik ndik ?!... yo wegah tho aku rabi karo kunti "
(jabang bayik ndik ?!... ya ogah tha aku nikah sama kunti)
Semoga saja para pembaca cerita ini akan mengalami sendiri bertemu dengan pocong , kuntilanak atau gendruwo beneran.... biar pada tau rasa dan percaya kalo demit demit itu emang beneran ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar