LIVING IN BATU CITY - Arwah Orang Orang Belanda di jl Trunojoyo

 


Saat sedang ngastral tanpa sengaja aku melihat sesosok arwah perempuan Belanda berambut pirang yang sedang duduk termenung di atap gereja Jago perempatan daerah Pesanggrahan , karena merasa penasaran akhirnya aku mendarat di atap gereja dan mencoba untuk berkenalan dengan sosok arwah perempuan Belanda yang masih duduk termenung itu , ketika kutanyai namanya ia mengaku bernama Dardanella.

Me : " dardanella ??... wat doe jij hier ? "

Dardanella : " Ik mis eerst de sfeer "

Untungnya aku sudah lumayan bisa berbahasa Belanda sehingga aku cukup mengerti kata kata yang diucapkan Dardanella , katanya ia merasa kangen dengan suasana kota Batu pada jaman dulu ketika masih dalam masa kolonial Belanda.

Dardanella : " was vroeger rustiger , niet zo "

Me : " je vindt het hier leuk ? "

Dardanella : " hier is kalm en mooi "

Tatapan mata Dardanella tampak berkaca kaca saat memandangi perempatan lampu merah dekat gereja , sepertinya ia memiliki masa lalu yang penuh kenangan di kota ini yang bisa dijadikannya penghiburan atas nasib buruknya menjadi arwah gentayangan , aku sendiri tidak berani bertanya apa yang menyebabkan ia mati , tetapi jika dilihat dari bekas darah di punggungnya kurasa ia mati tertembak oleh tentara Jepang.

Cukup lama aku duduk di atap gereja sambil mendengarkan Dardanella bercerita tentang masa lalu kota Batu , setelah tuntas bercerita ia malah berniat mengajakku menemui teman temannya sesama arwah gentayangan yang katanya banyak tersebar di sepanjang jl Trunojoyo.

Dardanella : " we ontmoeten vrienden , ze zijn hier in de buurt "

Me : " ja "

Aku menurut saja diajak Dardanella menemui teman temannya sesama arwah gentayangan , dari gereja Jago kami terbang melintasi jl Trunojoyo yang masih tampak ramai pada jam 10 an malam lewat , tak lama kemudian Dardanella mengajakku mendarat di hotel Aster yang bangunannya masih asli dari jaman Belanda , kulihat di atap hotel itu ternyata sudah ada 2 arwah orang Belanda yang sedang duduk duduk.

Dardanella : " zij zijn mijn vrienden "

Me : " oh ?? "

Begitu mendarat di atap hotel Aster Dardanella langsung disambut oleh teman temannya itu , sementara aku hanya terdiam seperti tak dianggap oleh mereka , untung saja Dardanella mengenalkan diriku pada teman temannya itu sehingga aku merasa sedikit lebih nyaman berkumpul bersama mereka.

Dardanella : " de naam johann , evenals margareth "

Johann : " welkom welkom "

Margareth : " goede nacht "

Arwah arwah temannya Dardanella itu bernama Johann dan Margareth , keduanya masih muda dan berpenampilan glamour seperti golongan orang kaya , Johann mengenakan setelan jas hitam sementara Margareth mengenakan setelan blouse biru , setelah berkenalan dengan mereka aku ikut duduk sambil mengamati bekas bekas darah di dada Johann dan Margareth , sudah bisa kupastikan kalau mereka juga mati terbunuh saat pasukan Dai Nippon Jepang menyerbu kota Batu.

Arwah arwah orang Belanda itu terus mengobrol sementara aku hanya terdiam sambil mengamati bangunan hotel Alpines yang berada tepat di sebelah hotel Aster , bangunan hotel berarsitektur modern itu terlihat menjulang dan sangat kontras dengan bangunan hotel Aster yang cuma sekedar villa peninggalan Belanda , kata Johann atap hotel Alpines itu sering dijadikan tempat nangkring oleh arwah arwah orang Belanda yang tersebar di sepanjang jl Trunojoyo.

Johann : " we vinden het daar leuk "

Me : " waarom ? "

Johann : " kan zien de ster "

Bangunan hotel Alpines memang menjulang tinggi sehingga arwah arwah orang Belanda suka nangkring di atasnya , kata Johann biasanya saat bulan bersinar terang arwah arwah orang Belanda akan berkumpul di atap hotel itu sambil bernyanyi lagu lagu jaman dulu.






Setelah cukup lama menghabiskan waktu di hotel Aster akhirnya aku diajak pergi oleh arwah orang orang Belanda itu , katanya mereka akan pergi ke sebuah rumah mangkrak untuk menemui arwah seorang Meneer yang juga menjadi sahabat mereka , tanpa berlama lama kami semua langsung terbang meninggalkan hotel Aster sebelum akhirnya tiba di sebuah rumah Belanda kecil yang letaknya berdekatan dengan kantor kelurahan Songgokerto , bahkan rumah mangkrak ini letaknya berseberangan dengan rumahnya Mbak Vesty namun aku tak pernah melihatnya karena tertutupi oleh deretan warung di pinggir jalan.



Begitu mendarat di halaman rumah mangkrak yang tampak gelap ini kulihat ada sesosok arwah Meneer botak yang mengenakan setelan serba putih , Meneer botak itu tampak sedang duduk di buk depan rumahnya sambil bernyanyi lagu lagu Belanda jaman dulu , saat tahu kami baru saja mendarat di halaman rumahnya arwah Meneer botak itu langsung menyambut kedatangan kami , tentu saja aku merasa canggung karena hanya aku saja yang tidak dikenali Meneer itu , sayangnya saat Dardanella mencoba mengenalkan diriku Meneer itu justru malah membentak bentakku dengan kasar.

Meneer : " jij lage persoon !!.. waarom met ons meedoen ??!! "

Me : " ?? "

Dardanella : " hij is een goed mens "

Meneer : " hij moet gaan , ik haat hem "

Rupanya arwah Meneer botak itu semasa hidupnya adalah orang yang rasial dan diskriminatif , pantas saja ia langsung membentak bentak diriku hanya karena aku bukan termasuk golongan orang Belanda.

Meneer : " ga gewoon weg !! "

Dardanella : " wees niet zo ! "

Margareth : " hij is niet slecht "

Johann : " laat hem bij ons zijn ! "

Meneer : " naaayy !!.... naayy !!.... "

Meneer botak itu tak bisa ditentang oleh Daniella , Margareth dan Johann yang berusaha membelaku , apa boleh buat kalau sudah seperti ini lebih baik aku cepat cepat pergi saja , lagipula aku sudah terlanjur merasa tersinggung oleh ucapan Meneer botak itu.

Me : " Ik zal vertrekken daniella "

Dardanella : " naay !!.. blijf bij ons "

Me : " maar ik kan er niet tegen "

Johann : " aarzel niet met ons "

Margareth : " wij zijn geen mensen zoals hij "

Daniella , Johann dan Margareth sudah berusaha membujukku untuk tetap di sini , tetapi aku sudah tak tahan melihat muka Meneer botak yang tampak galak dan terus memelototiku , akhirnya terpaksa aku pergi meninggalkan arwah orang orang Belanda itu dengan perasaan yang kecewa.

Vigo 
Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar