Selepas wisuda S2 aku dihadapkan pada sejumlah pilihan yang akan menentukan jalan hidupku ke depan , pilihan pertama adalah menjadi dosen akademisi di salah satu kampus Malang yang berakreditasi A , sementara pilihan kedua adalah menjadi calon legislatif yang akan duduk di kursi DPRD kampung halamanku Ponorogo melalui pencalonan salah satu partai politik , selain itu masih ada pilihan ketiga yaitu mencari bea siswa untuk meneruskan studi S3 ke Brisbane Australia dan sekaligus mengajak Aline beserta calon bayiku menetap di sana sementara waktu , ketiga pilihan ini membuatku bimbang hingga aku benar benar kesulitan untuk mengambil keputusan yang terbaik.
Pada dasarnya probabilitas semua pilihanku itu sudah ditentukan di Lauhul Mahfuz , tetapi keterbatasanku sebagai manusia biasa membuatku tak bisa melihat apa yang sudah ditentukan di Lauhul Mahfuz , karena itulah aku harus menemui seorang waliyullah jadzab agar setidaknya bisa membantuku untuk melihat isi Lauhul Mahfuz yang tak bisa dijangkau oleh orang seperti diriku , tentunya waliyullah jadzab itu bukanlah sosok yang dikultuskan sebagaimana wali wali besar jaman dulu , waliyullah dalam definisi sederhana adalah sosok yang maqamnya sudah mencapai tahapan makrifatullah atau sudah mencapai Allah ta ala , itu artinya seorang waliyullah juga sudah mencapai kondisi wahdatul wujud yang berarti kemanapun ia melihat hanya Allah saja yang terlihat , Allah di sini bukanlah Allah konseptual yang duduk di Arshy tetapi adalah Allah sang Alpha Omega yang lebih dekat daripada urat nadi , dengan demikian sang waliyullah sudah tak lagi terhijab dengan segala macam wujud material dari berbagai dimensi karena pada kondisi wahdatul wujud hanyalah tersisa wujud non material yaitu sang Alpha Omega sendiri sebagai satu satunya yang nyata dan menjadi sumber dari segala galanya , karena itulah sosok waliyullah juga menguasai segalanya hingga tak lagi terikat dengan segala macam hukum fisika , kimia , matematika ataupun logika , kondisi ini dalam dunia kesufian dikenal dengan istilah jadzhab.
Kebetulan di Ponorogo ada sosok waliyullah yang demikian , sosok itu adalah seorang pimpinan pondok pesantren kecil yang bernama Mbah Kuri , bagi orang Ponorogo sosoknya sudah tidak asing lagi karena sudah sering terjadi berbagai macam karomah yang sama sekali tak bisa dinalar , dulu Mbah Kuri pernah berada di Masjidil Haram Mekkah dan bertemu para koleganya yang sedang berhaji padahal di saat bersamaan beliau juga masih berada di rumah , pernah juga beliau mengajak orang untuk berhaji secara kilat hanya dengan memejamkan mata sebentar tiba tiba sudah sampai di Masjidil Haram , selain itu pernah juga Mbah Kuri terlambat menonton konser Slank di alun alun tetapi tiba tiba beliau sudah ada di barisan penonton terdepan hingga membuat heboh para Slanker , bahkan pada suatu acara pengajian beliau juga pernah menyuguhkan sebakul nasi yang tak pernah habis meskipun sudah dimakan oleh banyak orang , begitulah segelintir karomah Mbah Kuri yang sudah diketahui orang orang dan selalu menjadi bahan perbincangan hingga sekarang.
Untuk bertemu dengan Mbah Kuri aku harus sowan mendatangi rumahnya yang berada di komplek pondok pesantren Hudatul Muna Jenes , begitu tiba di sana saat sore aku langsung diantarkan seorang santri yang menyuruhku untuk berwudhu dahulu , tanpa berlama lama aku langsung berwudhu di masjid pondok sebelum akhirnya disuruh shalat sunnah takhiyatul sebanyak 4 rakaat , anehnya saat sholatku sudah mencapai rakaat keempat tiba tiba mataku jadi berkunang kunang sementara ruangan masjid terlihat semakin memudar , lebih anehnya lagi saat aku baru saja melakukan sujud terakhir tiba tiba ruangan masjid sudah berubah jadi megah dihiasi bermacam ornamen indah dan dipenuhi orang orang bertampang Arab yang juga sedang shalat atau duduk berzikir , dalam hati aku bertanya tanya apakah aku baru saja dipindahkan ke masjid di Arab sana atau aku cuma sekedar berhalusinasi ?!?... entahlah akal sehatku mulai kesulitan mencerna keanehan ini.
Setelah menyelesaikan sholat aku hanya terduduk diam mengamati ruangan masjid yang berbeda daripada sebelumnya , aku ingin memotret menggunakan ponsel tetapi aku merasa tak enak dengan orang orang di sekitarku , hingga tak lama kemudian mataku mulai berkunang kunang lagi sementara seisi ruangan masjid terlihat semakin memudar dan secara perlahan kembali berubah menjadi masjid sebelumnya , begitu keluar dari masjid pondok ini aku langsung menanyakan keanehan yang kualami tadi pada santri yang menyuruhku sholat.
Me : " kok iso maleh bedo mesjid e ? "
Santri : " kuwi mau hadiahe soko mbah kuri mas , sampeyan iso ngrasakno sholat nang masjid nabawi senajan gur sedelut thok "
Me : " masjid nabawi ??... tenanan tha ndek mau aku nang masjid nabawi ? "
Santri : " iyo mas , asli mesjid nabawi sampeyan ora rah nggumun "
Me : " kok iso ya ? "
Santri : " berarti sampeyan sek termasuk wong resik , senajan resike mek nang rakaat terakhir thok "
Me : " maksud e piye ? "
Santri : " nek wong reget njajal sholat mrene ora bakal iso pindah nang masjid nabawi , tapi nek wong seng resik pol wes kaet rakaat sepisan langsung kepindah neng mesjid nabawi "
Keanehan yang kualami tadi memang nyata dan bukan sekedar halusinasi belaka , ternyata masjid megah yang dipenuhi orang orang Arab tadi adalah masjid Nabawi yang merupakan salah satu masjid bersejarah selain masjidil Haram dan Masjidil Aqsa , tentunya aku merasa beruntung bisa sebentar berada di sana secara kilat tanpa perlu jauh jauh pergi naik pesawat.
Santri : " wes ayo tak terno nang omahe simbah mas ! "
Me : " iyo "
Saat diantarkan ke rumah Mbah Kuri ternyata sang waliyullah itu sudah ada di teras depan , dengan penampilan sederhana beliau duduk santai beralas tikar lusuh dan mempersilahkan aku untuk ikut duduk , anehnya setelah aku duduk dan bersalaman beliau langsung tau siapa namaku serta apa maksud kedatanganku kemari , bahkan beliau juga tau kalau istriku baru saja hamil.
Me : " kok ngertos sedoyo mbah ? "
Mbah Kuri : " opo lho seng aku ora ngerti le ??... sak isine jagad iki kethok kabeh "
Me : " trus kulo bingung gadah rencana niku pripun mbah ? "
Mbah Kuri : " sek ngko sek mbahase le , saiki ngopio disek "
" Nduuuk !!... nduuuk !!.. " dengan lantang Mbah Kuri memanggil seorang perempuan berjilbab untuk membuatkan kopi , tak butuh waktu lama perempuan itu sudah menyuguhkan 2 gelas kopi serta sepiring pisang goreng buat cemilan pengganjal perut.
Mbah Kuri : " ngopio sek karo mangan gedang goreng le "
Me : " nggeh mbah "
Pelan pelan kureguk segelas kopi yang disuguhkan kepadaku , setelah itu kucomot sepotong pisang goreng yang ternyata sudah agak dingin , tetapi Mbah Kuri malah menyuruhku untuk meletakkan kembali pisang goreng itu karena katanya akan dihangatkan lagi.
Mbah Kuri : " gedang goreng nek wes adem ora enak dipangan le , yo kudu dipanasi sedelut iki ben luwih enak nek mangan "
Me : " nggeh mbah "
Pisang goreng yang sudah agak dingin itu kutaruh di piring lagi sementara Mbah Kuri mengusap usapnya beberapa kali , setelah itu beliau menyuruhku untuk memakannya dan saat kupegang ternyata pisang goreng itu sudah panas seperti baru diangkat dari penggorengan.
Me : " kok panas maleh mbah gedange ? "
Mbah Kuri : " wes ndang panganen ora usah kakehan tekok "
Segala macam keanehan yang kualami hanyalah sebagian kecil dari karomahnya Mbah Kuri , tentunya aku berusaha untuk tidak terlalu nggumunan walaupun selalu ada perasaan takjub mengalami keanehan demi keanehan sejak tadi , kini sambil menyantap pisang goreng aku terus mendengarkan apa yang dikatakan Mbah Kuri.
Mbah Kuri : " kabeh uwong iki nduweni lakon uripe dhewe dhewe , bedo ceritane siji lan liya liyane "
Me : " nggeh mbah "
Mbah Kuri : " perkoro rencana uripmu ndek mau mung siji thok seng wes dumadi tenanan "
Me : " nopo mbah ? "
Mbah Kuri : " kowe dadio dosen ae "
Me : " kulo dados dosen mbah ??.. nek dados caleg pripun ? "
Mbah Kuri : " kuwi uduk sejatining dalanmu , ora bakalan dumadi nek kowe saiki maju nyalon dadi caleg "
Me : " nek kulo nerusaken kuliah teng luar negeri pripun mbah ? "
Mbah Kuri : " urung wayahmu metu soko negoro iki , ngko enek wayahe dhewe kowe budhal nang luar negeri nerusake kuliahmu tapi uduk saiki wektune "
Me : " kapan mbah kulo saget kuliah teng luar negeri ? "
Mbah Kuri : " ngko sek suwi ora sah kok pikir disek , seng penting kowe saiki ndang siap siapo dadi dosen nang kuto malang kono "
Me : " ngoten mbah ? "
Mbah Kuri : " lak wes nggenah tha omonganku iki mau le , yo wes iku dalan uripmu seng wes dumadi , lakon uripmu saiki yo dadi dosen kuwi , ora bakal klakon karepmu seng liyane amarga uduk sejatining dalan uripmu "
Me : " nggeh mbah "
Aku tidak perlu meragukan lagi apa yang dikatakan oleh Mbah Kuri , kalau beliau bilang aku harus menjadi dosen di Malang itu artinya memang demikian ketetapan jalan hidupku yang sudah dilihat Mbah Kuri di Lauhul Mahfuz , karena itulah aku tak lagi mempertanyakan probabilitas pilihan hidupku yang lain dimana semuanya hanyalah sebatas buah rencana pikiran saja dan bukan merupakan ketetapan Lauhul Mahfuz , lagipula pilihan menjadi dosen kurasa adalah yang paling realistis untuk dijalani dalam waktu dekat ini , bukan tak mungkin pula dengan menjalani profesi sebagai dosen juga akan membuka berbagai pilihan lain di masa mendatang yang saat ini masih belum terlintas di pikiranku , yang jelas dalam waktu dekat ini aku harus segera mempersiapkan diri menjadi dosen di salah satu universitas kota Malang.
Tentunya menjadi seorang dosen juga harus siap mengemban amanah serta tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa , dalam hal ini peran seorang dosen tidak hanya sekedar memenuhi jadwal mengajar saja tetapi juga harus mematangkan mentalitas para mahasiswa yang merupakan agen perubahan bangsa Indonesia , karena itulah peran seorang dosen benar benar sangat signifikan agar para mahasiswa kelak dapat menjadi tonggak pembangun bangsa yang memiliki integritas tinggi serta kompetensi untuk menghadapi tantangan global , pada akhirnya kesuksesan seorang dosen bukanlah diukur dari seberapa banyak gaji yang diterimanya tetapi dari seberapa banyak orang sukses yang dididiknya , dengan motivasi inilah aku akan bertekad kuat menjalani profesi sebagai dosen yang berdedikasi penuh terhadap dunia pendidikan.
Vigo
Februari 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar