Aline hamil di saat wabah Corona mulai melanda , meskipun situasinya cukup berat tapi aku sebagai suami terus mengupayakan yang terbaik agar ia tidak merasa tertekan dan kesehatannya tetap terjaga , segala macam kebutuhan gizinya kupenuhi dengan cara membeli buah atau sayuran langsung dari warga Bumiaji sendiri , jika ia ngidam sesuatu maka aku langsung memesannya secara online tanpa perlu keluar rumah , selain itu stok susu dan multivitamin juga sudah kuborong sewaktu panic buying di masa awal merebaknya wabah Corona , sementara urusan medical check up aku selalu rutin memanggil seorang bidan rujukan untuk datang ke rumahku secara berkala , maklum kami tak bisa pergi ke klinik atau rumah sakit karena takut tertular Corona dari pasien pasien yang rawat inap di sana.
Untuk menjaga pikiran agar tidak tertekan aku melarang Aline untuk menonton televisi dan membuka situs situs berita di internet , maklum semua media hanya menyajikan berita buruk tak berkesudahan yang rasanya hanya membuat stress kalau menyimaknya setiap hari , lebih baik Aline kubelikan novel novel baru yang sekiranya bisa membuatnya lupa dengan keadaan yang sedang tak karuan ini , jika ia bosan berdiam diri di rumah maka aku akan mengajaknya berwisata di sekitaran Bumiaji saja , kami masih bisa menikmati sunset di bukit Teletubbies atau sekedar koceh di air terjun Coban Talun , semua tempat wisata alam itu sedang sepi sepinya karena aturan stay at home sehingga kami bisa puas menghilangkan kejenuhan selama berdiam diri di rumah.
Intinya aku berusaha menjaga Aline secara fisik dan psikis , semua itu demi terjaganya kesehatan janin anakku yang ada dalam perutnya , tak henti hentinya juga aku bermunajat agar wabah Corona ini segera berakhir sebelum anakku nanti terlahir , aku ingin mendengar tangisannya dengan penuh euforia suka cita serta perasaan yang lega tak terbebani segala prolematika dunia.
Vigo
April 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar