MALANG MYSTERIO - Uji Nyali di Kuburan Deket Kampus STIKES Maharani part 1

ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar awal tahun 2010 ketika aku masih kuliah semester 6


Hingar bingar perayaan tahun baru telah usai beberapa hari yang lalu dan malam ini kami kembali berkumpul untuk melakukan hobi lama kami , Tiwi yang ngekos di sekitar kampus Stikes Maharani mengajak kami untuk melakukan uji nyali di komplek pemakaman yang tak jauh dari kosannya.

Zul : " emangnya udah ada orang yang pernah liat penampakan di situ belum wi ? "

Tiwi : " anak anak stikes sih mas yang katanya pernah liat "

Pendik : " liat pocong apa kunti wi ? "

Tiwi : " katanya sih yang sering muncul itu pocong mas , tapi ada hantu yang lainnya juga , aduuh aku lupa namanya apa mas "

Zul : " emang cirinya gimana wi ? "

Tiwi : " itu lho mas yang wujudnya kayak bola api tapi bisa melayang , duh apa ya namanya ? "

Niken : " bola api ya wi ?!... gw kayaknya pernah denger juga tapi lupa namanya , apaan itu vig ? "

Me : " anu , itu kalo ngga salah banaspati namanya , iyo tha ndik ? "

Pendik : " oyi bener banaspati iku vig "

Tiwi : " nah , banaspati mas namanya... bener tuh "

Niken : " gw belum pernah liat gituan wi , emang gedenya seberapa tuh ? "

Tiwi : " gak jelas mbak , ada yang bilang segede bola basket tapi ada juga yang bilang segede ban truk lho mbak "

Zul : " ah masak segede ban truk wi ? "

Tiwi : " ya ngga tau mas , makanya kita buktiin aja biar tau "

Ngomongin soal hantu banaspati membuatku jadi penasaran juga , selama ini aku hanya mendengar dari cerita orang dan belum pernah sekalipun aku menjumpai penampakannya... namun aku juga tak tahu seberapa bahayanya hantu ini , apalagi membayangkan wujudnya yang berupa bola api saja sudah membuatku merasa agak jiper.

Me : " bahaya ngga nih stiv ? "

Steve : " kalau jumlahnya banyak bisa bahaya mas , tapi kalo cuma 1 aku bisa ngatasin "

Niken : " digaremin bisa ngga stiv ? "

Steve : " ngga ngefek sih mbak , setauku banaspati umurnya tua tua. , sekitar 100 tahunan lebih kayaknya "

Niken : " buset tua amat stiv ?!.. kayak kunti merah dong kesaktiannya ? "

Steve : " masih dibawahnya kok mbak "

Tiwi : " trus kamu pernah ketemu banaspati juga stiv ? "

Steve : " pernah wi , dulu pas maen bola sama temen temenku ada banaspati keluar dari kuburan deket lapangan "

Niken : " trus lu apain tu banaspatinya ? "

Steve : " ngga aku apa apain mbak , aku belum bisa tenaga dalam jaman segitu "

Zul : " ngatasinnya mesti pake ajian ya stiv ? "

Steve : " iya mas , aku udah siap kok kalo harus ngadepin "

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan jam setengah 12 malam , sudah waktunya kami bersiap siap untuk berangkat menuju komplek pemakaman itu.... sejenak kami berdoa bersama dan memohon kepada Yang Kuasa agar diberi perlindungan dan juga keselamatan jika terjadi hal hal buruk , dengan mengucap Bismillah kami semua memantapkan nyali untuk menyibak misteri gaib di komplek pemakaman itu.

Setelah berjalan menyusuri jl terusan Candi Panggung kini kami telah tiba di komplek pemakaman yang jaraknya cukup dekat dengan kampus Stikes Maharani ini , dengan langkah agak gamang kami bergegas masuk dan sejenak melihat lihat keadaan sekeliling yang tampak menyeramkan... ratusan nisan dan kijing terserak di mana mana sementara pepohonan kamboja dan juga beringin lebat tumbuh di beberapa titik lokasi , satu satunya penerangan di komplek pemakaman ini hanyalah 2 lampu neon yang terpasang di kiri kanan jalan masuk sebelah barat.

Pendik : " singup rekk "

Zul : " ringinnya gede gede ya ndik ? "

Niken : " pasti ada demitnya tuh di dalem pohon beringin , ya kan stiv ? "

Steve : " bener mbak , kayaknya kunti "

Sesaat kami terpaku di dekat jalan masuk komplek pemakaman ini sebelum akhirnya Pendik mengeluarkan 3 buah senter dari dalam ranselnya.

Niken : " hionya ngga dinyalain ndik ?!... infrasoundnya juga tuh "

Pendik : " ntar kita nyari posisi duduk dulu nik "

Me : " stiv , enaknya duduk dimana nih ?! "

Steve : " ayo ikut aku semuanya ! "

Sambil mengulurkan kedua telapak tangannya ke depan Steve memimpin kami berjalan menuju tengah tengah pemakaman ini , sekejap kemudian kami semua duduk bersila di atas rerumputan sambil mengamati keadaan sekeliling yang tampak gelap gulita.

Niken : " ndik infrasoundnya nyalain dong ! "

Zul : " hionya juga ndik ! "

Pendik : " oyi bro oyi "

5 batang hio telah dinyalakan Pendik dan langsung ditancapkannya pada tanah di sekeliling kami , tak lupa ia juga menyalakan speaker portablenya yang tertancap flashdisk berisi file infrasound.

Tiwi : " baunya nyengat banget mas "

Pendik : " tapi hantu seneng bau ginian wi "

Tiwi : " tau gini dari dulu aku pake hio mas "

Aroma hio ini terasa menyengat indra penciuman kami sementara kepulan asapnya melayang tak tentu arah karena terhembus oleh angin yang juga terasa dingin saat menerpa badan , kurasa lebih baik merokok dulu biar badan jadi agak hangat.

Me : " rokokan ae penake ndik "

(ngerokok aja enaknya ndik)

Pendik : " oyi vig , tali jagad kretek yo "

Kami para cowo mulai sibuk menyalakan rokok sementara Niken dan Tiwi sibuk dengan peralatannya masing masing , Niken membawa camera pocket sementara Tiwi membawa handycam.

Me : " rekaman videonya udah dapet apa aja wi ? "

Tiwi : " masih dikit kok mas , cuma kunti di kantor kampus umm dulu sama suara gak jelas di wisma erni "

Niken : " wisma erni di lawang itu wi ?!?.. udah uji nyali ke sana ?! "

Tiwi : " iya mbak , sama eko trus sama temen temen sejurusan yang lain "

Zul : " wah , kita aja belum berani mau uji nyali ke sana wi "

Niken : " iya wi , gw sih ngga takut sebenernya tapi cowo cowo ini nih yang pada jiper , mau uji nyali ke sana ngga jadi jadi "

Pendik : " lha serem lho nik "

Niken : " alahh !!.. lu kalah nih sama tiwi ndik "

Sambil duduk di sini kami malah asik membahas keangkeran sebuah bangunan villa bernama Wisma Erni yang berlokasi di daerah Lawang , siapa sangka jika Tiwi si cewe berjilbab ini malah udah ke sana bareng teman temannya.... kami para senior merasa malu dengannya karena rencana uji nyali kami ke sana tak pernah terlaksana , kami merasa belum cukup nyali untuk menyibak keangkeran villa peninggalan Belanda itu.

Zul : " kita mesti cepetan uji nyali ke wisma erni mumpung belum kkn "

Me : " iya juga sih zul , kita udah semester 6 sekarang "

Niken : " bang renggo sekalian diajakin , kan katanya ada kunti merah juga di sana "

Tiwi : " katanya juga ada noni belanda lho mbak , trus belakangnya itu kan kuburan kuno , pasti ada banyak juga hantunya "

Me : " kamu udah liat noni belandanya wi ? "

Tiwi : " belum mas , ngga ada yang nongol sih pas kemaren ke sana , tapi suara cewe ketawa , jerit jerit atau nangis sering banget kedengeran "

Pendik : " wisma erni ancen sarange demit iku , wedi aku vig "

Me : " podo ndik "

Cukup sudah ngobrolin soal Wisma Erni , kini kami kembali fokus dengan keadaan sekeliling.... sorotan senter kami mulai menyapu segala penjuru area pemakaman ini namun tak kami dapati apapun selain kawanan kelelawar yang beterbangan di pepohonan ringin.

Pendik : " lowo thok vig "

(kelelawar doang vig)

Me : " kon yo lowo tho ndik , nek bengi gaweanmu keluyuran "

(kamu juga kelelawar tho ndik , kalo malem kerjaanmu keluyuran)

Pendik : " wancik kon "

Steve : " mas !!.... ssttt !!.... diam dulu !! "

Mendadak Steve menyuruh kami untuk diam sementara tangannya yang memegangi senter mengarah ke sebuah makam di area sebelah barat , makam itu terlindungi oleh atap dan pagar besi namun ada sesuatu yang janggal di sana , dari kejauhan tampak kepulan asap pekat yang tak bergerak sedikitpun.

Tiwi : " duh itu apaan ya ?! "

Niken : " kayaknya ektoplasma deh wi , ya kan stiv ? "

Steve : " bener mbak "

Kini kami semua terdiam mengamati ektoplasma di makam yang berjarak sekitar 10 meteran dari posisi kami berada , setelah cukup lama menyorotinya dengan senter perlahan ektoplasma itu memudar lalu menghilang begitu saja.

Tiwi : " loh kok ilang sih ektoplasmanya ?! "

Niken : " ilang kemana tadi stiv ?! "

Steve : " gak tau mbak "

Sesaat kami celingukan dan mengarahkan sorotan senter kesana kemari namun tak kami dapati juga kemana perginya ektoplasma tadi... kini kami kembali terdiam dan terus mengamati keadaan sekeliling , hingga akhirnya perhatian kami tersita oleh suara yang terdengar dari kejauhan " kroosak !!.... kroosakk !!... kroosakk !!... " samar samar terdengar suara dedaunan kering yang terinjak oleh langkah kaki seseorang dan secara serempak kami langsung menoleh ke area sebelah timur pemakaman ini... di sana terlihat sesosok manusia yang sedang berjalan tertatih tatih menuju ke arah kami.

Zul : " waduh stiv siapa itu ?! "

Niken : " duh dia ke sini stiv ! "

Steve : " tenang dulu mbak !!... gak usah takut "

Kian lama sosok itu berjalan kian dekat dengan posisi kami berada , dengan sorotan senter kami dapat mengamati sosoknya lebih jelas lagi... ternyata sosok itu hanyalah seorang kakek yang mengenakan peci , kemeja lusuh berwarna putih dan juga sarung bermotif garis garis warna merah.

Tiwi : " duh mbak , itu siapa sih sebenernya ?! "

Niken : " kuncennya kuburan ini deh kayaknya wi "

Zul : " kirain hantu nik "

Sesaat kami menarik nafas lega karena sosok itu ternyata hanyalah seorang kakek yang sepertinya menjadi kuncen pemakaman ini , kini ia menghentikan langkahnya beberapa meter dari posisi kami berada dan kemudian ia duduk berjongkok memunguti dedaunan kering dan juga sampah sampah yang berserakan di antara batu nisan , setelah terkumpul cukup banyak ia segera membakarnya.

Zul : " mau bakar sampah ternyata "

Niken : " kerjaannya tiap malem bakar sampah di kuburan kali ya ? "

Pendik : " namanya juga kuncen kuburan nik "

Suasana pemakaman yang tadi gelap gulita kini menjadi agak terang karena nyala kobaran api unggun hasil pembakaran sampah , sementara kakek itu duduk berjongkok di dekat kobaran api sambil menghisap sebatang rokok , ia sama sekali tak menghiraukan keberadaan kami di sini.

10 menit sudah kakek itu duduk di dekat kobaran api unggun hingga akhirnya ia berdiri dan kemudian berjalan ke area timur pemakaman ini , namun tiba tiba terjadi sesuatu dengannya , ia terjatuh dan tak bangun bangun lagi.

Tiwi : " ya allah tuh kakek kenapa kok jatuh ?! "

Zul : " kesandung nisan tuh kayaknya "

Niken : " duh kok ngga bangun lagi zul ?! "

Zul : " waduh , kenapa ya ngga bangun lagi ?! "

Tiwi : " jangan jangan tu kakek pingsan mbak ?! "

Niken : " duh guys , gimana nih ?! "

Kami mulai panik sendiri karena kakek itu tak kunjung bangun setelah terjatuh tadi , terdorong niat untuk menolong akhirnya kami berunding secara singkat... sesuai kesepakatan aku , Zul , dan Pendik akan menyusul kakek itu sementara Steve , Niken dan Tiwi menunggu di sini.

Steve : " ntar gotong aja ke sini mas ! "

Zul : " iya stiv , ntar abis itu kita bawa aja ke rumah warga biar ditolongin "

Me : " ayo ke sana sekarang ! "

Pendik : " ayo vig ! "

Niken : " duh ati ati ya guys !! "

Dengan langkah tergesa kami bertiga mulai berjalan di antara nisan nisan dan juga melewati kobaran api unggun yang dibuat kakek tadi , sementara sorotan senter kami terus bergerak kesana kemari mencari cari lokasi kakek itu terjatuh.

Pendik : " tibone ndek ndi vig ?! "

Me : " goleki terus ndik ! "

Tanpa kenal lelah kami terus mencari cari lokasi jatuhnya kakek tadi , hingga akhirnya sorotan senterku menemukan sosoknya yang tengah tergeletak di antara nisan nisan.

Me : " iku ndik ! "

Pendik : " ayo diparani ! "

(ayo disamperin !)

Zul : " pingsan tuh kayaknya ndik "

Tanpa buang waktu kami bertiga segera menghampiri kakek yang tengah tergeletak itu , namun kami langsung terperanjat setengah mati ketika melihat sosoknya dari dekat... kakek itu tak lagi berwujud manusia seperti sebelumnya melainkan hanya tinggal tengkorak dan tulang belulang saja.

Pendik : " wancik vig ?!... kok dadi cumplung ngene vig ?! "

(wancik vig ?!.... kok jadi tengkorak gini vig ?!)

Me : " mbokne anjuk tenan ki ndik !!... onok opo iki ?! "

(mbokne ancuk banget nih ndik !!... ada apa ini ?!)

Zul : " vvig ?!?... kenapa bisa gini ?! "

Dengan menguatkan nyali kami terus mengamati tengkorak dan tulang belulang yang tergolek di antara nisan nisan itu , kemeja warna putih , sarung bergaris warna merah dan juga pecinya masih ada tapi bagaimana bisa kakek itu berubah jadi tulang belulang seperti ini ?!?!..... akal sehat kami benar benar terguncang dan sulit untuk menalar kejadian ini , sungguh kami merasa bergidik dengan situasi yang tak kami mengerti ini.

Zul : " vvig ?!... kita mesti gimana ini ?! "

Me : " tenang zul ! "

Sesaat kami menghela nafas panjang dan mencoba untuk meredam rasa takut yang mulai menyergap , namun tiba tiba " aaahhhh !!!.... aahhh !!..... " nyaring terdengar teriakan histeris Niken dan Tiwi yang seketika mengagetkan kami bertiga , secara spontan kami langsung menoleh ke arah mereka dan terlihatlah sesuatu yang jauh lebih mengerikan... rupanya kobaran api unggun yang dibuat oleh kakek tadi telah berubah menjadi apa yang disebut banaspati , kini di hadapan kami tampak sebuah bola api berukuran cukup besar yang tengah melayang layang tak jauh dari posisi Steve , Niken dan Tiwi.

Pendik : " wancik vig ?!?!.... iiku banaspatine !!! "

Zul : " wwaduh vig ?!?... kok bisa jadi gitu apinya ?!? "

Suasana kian mencekam ketika bola api yang melayang sekitar 6 meteran di udara itu mulai berputar putar mengitari area pemakaman ini , bahkan Niken dan Tiwi langsung berlari tunggang langgang meninggalkan Steve yang masih berdiri mematung menatap banaspati itu.

Zul : " jjadi itu yang namanya banaspati ya ndik ?! "

Pendik : " aaku juga baru tau zul "

Me : " awake dhewe kudu piye iki ndik ?! "

(kita mesti gimana ini ndik ?!)

Selama beberapa menit kami semua terdiam dan terpana menatap banaspati itu , seumur umur baru kali ini kami melihat hantu berwujud bola api yang berkobar kobar dan terus melayang layang.... begitu besar nyala kobaran apinya hingga membuat segala penjuru area pemakaman ini terlihat terang benderang.

Zul : " vvig , niken barusan sms aku , kita disuruh kabur sekarang , dia nungguin di depan kampus stikes "

Me : " stiv gimana ?! "

Zul : " kata niken dia mau musnahin banaspati itu , pokoknya kita disuruh nyusul ke kampus stikes "

Me : " yok opo ndik ?! "

Pendik : " aayo mlayu saiki !!... tiwas awake dhewe ciloko ngko "

(aayo lari sekarang !!... daripada kita celaka ntar)

Tanpa buang waktu kami segera kabur dari komplek pemakaman ini melalui jalan sebelah timur , kami bertiga langsung lari terbirit birit menyusul Niken dan Tiwi yang telah berada di kampus Stikes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar