Pagi pagi buta bang Renggo membangunkan aku yang masih tertidur pulas , ia akan mengajakku mengunjungi pasar apung yang legendaris itu sehingga aku langsung bersemangat seketika , buru buru kucuci mukaku dan kemudian kukenakan jaket karena cuaca terasa begitu dingin.
Renggo : “ ntar kita ngopi di sono aja , enak suasananya “
Me : “ manut bos “
Dari rumah kami melaju hingga tiba di sebuah dermaga kecil tepian sungai Martapura , ternyata bang Renggo menitipkan mobilnya di sini dan kemudian menyewa perahu kecil yang bentuknya pipih memanjang , kata bang Renggo perahu ini disebut klotok.
Me : “ tukang perahunya mana bang ? “
Renggo : “ gak pake tukang perahu vig , ya gw sendiri yang ngendaliin perahunya “
Me : “ emang bisa bang ngendaliin perahu ? “
Renggo : “ ha.. ha.. dari jaman masih ingusan gw udah bisa naek perahu sendiri “
Tadinya kupikir ada orang lain yang akan mengemudikan perahu klotok ini , tapi ternyata justru bang Renggo sendiri yang duduk di dekat mesin sambil memegangi tuas panjang untuk mengendalikan laju perahu ini , kurasa perjalanan melintasi sungai ini akan menjadi sangat menyenangkan sehingga aku sangat bersemangat saat duduk di bagian depan perahu.
Me : “ pasarnya masih jauh bang ? “
Renggo : “ pasar lok baintan itu deket vig , tapi nyantai aja kita jalannya , biar enjoy “
Mesin telah dinyalakan dan secara perlahan perahu klotok ini mulai berjalan melintasi sungai Martapura yang tampak ramai pagi ini , kulihat ada banyak perahu klotok lain yang tampak hilir mudik kesana kemari , selain itu juga ada perahu agak besar yang ditumpangi oleh banyak orang , bahkan atap perahu itu bisa untuk mengangkut beberapa sepeda motor juga.
Renggo : “ gimana vig ?!.. asik gak ?! “
Me : “ asik ini bang , rame sungainya “
Sungai ini cukup luas dan memiliki banyak percabangan sungai sungai kecil yang entah mengarah kemana , sementara di sepanjang tepian sungai ada banyak rumah rumah kayu yang didirikan di atas permukaan air , itu adalah rumah panggung yang katanya bang Renggo sudah ada sejak jaman dulu karena memang orang Kalimantan hidupnya tidak bisa jauh jauh dari sungai.
Bang Renggo memacu perahu klotok ini dengan lambat sehingga aku bisa terpuaskan menikmati suasana di sepanjang sungai Martapura , semakin lama kulihat ada banyak ibu ibu yang mengenakan caping lebar tampak sedang mendayung perahu yang bermuatan buah buahan atau sayuran , sepertinya lokasi pasar apung yang kami tuju sudah semakin dekat jaraknya.
Beberapa meter di hadapan kami telah tampak puluhan perahu yang bersandar di dermaga tepian sungai , itu adalah pasar apung Lok Baintan yang menjadi tujuan kami dan suasananya benar benar sangat ramai sekali , saat kami tiba bang Renggo langsung mematikan mesin dan kemudian mendayung perahu klotok yang kami tumpangi.
Renggo : “ kita cari kopi dulu vig “
Me : “ mana bang warungnya ? “
Renggo : “ itu di depan “
Me : “ mana ? “
Renggo : “ itu di perahu jukung yang ada atapnya “
Tadinya kupikir bang Renggo mau mengajak minum kopi di warung tapi ternyata kami malah ngopi di perahu lebar yang ada atapnya atau disebut jukung , tak cuma kopi saja yang dijual di perahu ini tapi juga ada jajanan khas pasar macam kue apem , bikang dan juga lepet.
Renggo : “ enak vig itu burasnya , lu makan deh “
Me : “ buras apaan bang ? “
Renggo : “ itu yang dibungkusin daun “
Me : “ itu lepet bang “
Renggo : “ lha iya kalo di sini namanya buras vig “
Ternyata buras yang dimaksud bang Renggo itu adalah lepet , makanan ini memang enak kalau disantap sambil ngopi di atas perahu begini , apalagi suasana pasar apung Lok Baintan yang tampak hiruk pikuk terasa begitu menyenangkan untuk dilihat.
Renggo : “ lu tau pasar apung ini pasti dari iklan rcti oke kan vig ? “
Me : “ iya bang , jaman gw masih sd itu “
Renggo : “ ya sekarang lu udah tau sendiri kayak gimana pasar apungnya “
Me : “ ha.. ha.. asik kalo udah liat langsung gini , habis ini kita foto foto ya bang “
Setelah ngopi aku jadi merasa lebih segar dan bersemangat , kini lekas kusuruh bang Renggo untuk mendayung perahu ke dermaga karena aku ingin berfoto sebentar berlatarkan pasar apung Lok Baintan ini.
Renggo : “ dah keren nih fotonya , kita rokokan dulu deh vig “
Me : “ abis ini kemana lagi bang ? “
Renggo : “ ya ke paminggir langsung aja vig , lumayan jauh itu jaraknya ke sono “
Sebatang rokok baru saja kusulut sementara bang Renggo sedang menelpon temannya yang tinggal di daerah Paminggir , rencananya setelah ini kami akan langsung berangkat kesana dan sekalian menginap semalaman , ada kemungkinan kalau di sana kami bisa menjumpai sosok naga Puaka yang sudah menjadi mitos di kalangan orang Kalimantan.
Jarak daerah Paminggir ternyata sangat jauh , selama berjam jam kami menempuh perjalanan mengendarai mobil sebelum akhirnya tiba di dermaga kecil yang berada di kabupaten Hulu Sungai Utara , dari sini bang Renggo menitipkan mobilnya dan menyewa perahu klotok lagi karena katanya daerah Paminggir itu letaknya terpencil dan hanya bisa ditempuh melalui sungai saja.
Me : “ ini masih jauh bang kalo naik perahu ? “
Renggo : “ ya lumayan jauh vig , sejam paling nyampe sono “
Hari sudah siang dan matahari bersinar lumayan terik sehingga aku tak terlalu menikmati perjalanan di sepanjang sungai , yang kulakukan hanya menyandarkan punggung sambil sesekali kusapukan tangan kananku di permukaan air sungai yang tampak keruh , sementara bang Renggo yang duduk di dekat mesin tampak santai memegangi tuas kemudi sembari terus menghisap rokoknya.
Setengah jam lebih perahu klotok ini melaju hingga akhirnya aku mulai menyaksikan pemandangan yang berbeda , kini di sepanjang tepian sungai aku melihat hamparan rawa rawa yang tampak begitu luas membentang hingga berhektar hektar , bahkan luasnya mungkin melebihi luas perkotaan.
Renggo : “ udah mau nyampe paminggir ini vig “
Me : “ rawa rawa doang gini bang “
Renggo : “ ya gini paminggir ini vig , tapi asik kan ?! “
Aku langsung terpesona melihat hamparan rawa rawa di sepanjang tepian sungai yang kami lewati ini , sambil berdiri di atas perahu aku terus memandangi dengan perasaan takjub luar biasa , rawa rawa yang terbentang luas itu tampak begitu hijau karena tertutupi oleh ribuan eceng gondok berdaun lebat , sungguh indah sekali alam yang tersaji di daerah Paminggir ini.
Renggo : “ bentar lagi udah masuk desa vig “
Me : “ pelan aja bang jalannya , biar enak kalo liat liat “
Bang Renggo mulai melambatkan laju perahu sementara aku masih berdiri di bagian depan sambil terus memandangi suasana tepian sungai , kulihat ada banyak kerbau kerbau besar yang tampak sedang berendam sembari dimandikan oleh beberapa orang , selain itu juga ada beberapa anak SD yang mengendarai perahu klotok sendirian tanpa didampingi oleh orang dewasa , mungkin mereka terbiasa pulang pergi ke sekolah dengan cara seperti itu.
Me : “ anak sd aja bisa naek perahu sendiri bang “
Renggo : “ ya namanya hidup di sungai vig , udah biasa kayak gitu “
Ketika memasuki desa aku semakin takjub karena pemukiman di sini bukan berdiri di atas tanah daratan tetapi didirikan di atas rawa rawa , rumah rumah panggung yang terbuat dari papan kayu tampak saling berjejejeran di sepanjang tepian sungai yang kami lewati , bahkan juga ada rumah rakit yang mengapung apung di permukaan air sungai.
Me : “ gak ada daratannya ini bang , rumahnya di atas rawa semua “
Renggo : “ di sini emang gak ada daratannya vig , kalo bikin rumah ya di atas rawa “
Me : “ kok kayunya gak lapuk kena air sampe lama ? “
Renggo : “ itu bahannya pake kayu ulin vig , tahan air kuat banget pokoknya “
Bagi orang seperti diriku bisa berada di sini dan menyaksikan kehidupan di atas rawa rawa adalah suatu pemandangan yang baru , ketika perahu merapat bang Renggo langsung mengajakku keliling desa dan aku dibuat makin terkagum kagum melihat suasananya , ternyata jalan jalan di desa ini semuanya terbuat dari titian papan kayu yang disusun layaknya jalan di daratan , bahkan orang orang terlihat santai mengayuh sepeda pancal tanpa takut tercebur ke rawa , selain itu tak ada satupun orang yang terlihat sedang mengendarai motor karena kata bang Renggo orang sini tak ada yang punya sepeda motor , bagi mereka lebih penting punya perahu karena hanya itu satu satunya transportasi yang berguna di rawa rawa.
Me : “ baru sekarang gw liat desa kayak gini bang “
Renggo : “ unik kan vig , di jawa gak ada yang kayak gini “
Me : “ trus kita kemana lagi ini bang ? “
Renggo : “ ayo ke rumah temen gw ! “
Kami terus melangkahkan kaki di atas jalan yang terbuat dari titian papan kayu ini , hingga akhirnya kami tiba di sebuah rumah kecil berdinding kayu yang dicat warna biru , sementara seorang pria yang mengenakan sarung langsung menyambut kedatangan kami dan mempersilahkan untuk masuk ke rumahnya , pria itu adalah temannya bang Renggo yang bernama bang Fajri.
Fajri : “ ikam lawas banar kada kemari nggo “
Renggo : “ ha.. ha.. baru bulikan ka banjar jri , di barabai sibuk kerjaan terus “
Dua orang ini tampak berbincang akrab sementara aku hanya terdiam sambil menghisap rokok , beberapa menit kemudian istrinya bang Fajri datang menyajikan kopi dan langsung kami seruput bareng bareng.
Fajri : “ wah pian dari jakarta itu jauh banar “
Me : “ ya baru pertama ini ulun ke kalimantan bang “
Fajri : “ pian kada usah heran maliat kampung ulun keini , namanya jua orang rawa mas “
Me : “ ulun malah senang liat suasana di sini bang , di jakarta sumpek tiap hari macet “
Renggo : “ sini biar cuma rawa rawa tapi asik ya jri “
Fajri : “ ha.. ha.. pokoknya ulun jamin pian nanti segar pikirannya di sini mas “
Setelah lama berbincang bang Fajri berniat mengajak kami memancing , ia membawa 2 batang pancingan , sebilah pisau , 3 buah gelas plastik dan juga sebuah termos yang berisi kopi , walaupun aku tak suka memancing namun sepertinya akan sangat menyenangkan kalau aku menghabiskan sore ini di rawa rawa sambil sekalian berfoto ria , biar teman temanku di Jakarta jadi kagum dan menganggapku sebagai orang yang suka bertualang.
Perahu klotok mulai melaju kencang melintasi sungai hingga akhirnya kami meninggalkan desa , kini di sekeliling kami hanyalah rawa rawa yang dipenuhi enceng gondok lebat sementara kulihat ada beberapa orang yang sedang asik memancing di atas perahunya masing masing , segera saja bang Fajri melambatkan perahunya dan kemudian merapat di tepi sungai.
Renggo : “ cari kodok dulu vig “
Me : “ ngapain cari kodok ? “
Renggo : “ buat umpan ikan “
Entah ikan jenis apa yang ada di sungai ini hingga bang Renggo harus mencari kodok untuk umpan pancing , kini ia dan bang Fajri turun dari perahu klotok lalu sibuk mengaduk aduk lumpur di bawah enceng gondok , tak lama kemudian mereka sudah mendapatkan beberapa ekor kodok yang langsung dimasukkan ke dalam ember kecil.
Renggo : “ dapet banyak vig kodoknya “
Fajri : “ nanti dapat iwak kita makan bareng “
Kedua orang ini baru saja naik perahu lagi dan langsung menyiapkan peralatan pancingnya masing masing , sementara kodok kodok yang dijadikan umpan itu dilemparkan ke sungai dan terus bergerak gerak kesana kemari.
Me : “ ikannya apaan aja bang di sini ? “
Renggo : “ ada ikan haruan sama sidat , kadang juga ada udang “
Ketika mereka sedang asik memancing aku hanya duduk menyaksikan sambil sesekali memotret , beberapa ikan mereka dapatkan hanya dalam waktu kurang dari sejam dan itu sudah cukup untuk acara makan bareng sore ini , tanpa berlama lama bang Fajri mulai bersiap memacu perahunya meninggalkan rawa rawa ini.
Fajri : “ kita besampan ke tambak amun handak bakar iwak “
Renggo : “ ayo cepetan jri ! “
Perahu klotok yang kami tumpangi perlahan mulai melaju lambat melintasi sungai sebelum akhirnya berbelok melewati percabangan sungai sungai kecil dan berakhir di daratan yang berupa tanah urukan becek , ketika kuinjakkan kakiku tanah ini langsung ambles sedikit karena memang diuruk di atas rawa rawa.
Renggo : “ ayo bantuin cari ranting kayu kering vig ! “
Me : “ oyi “
Kami bertiga mencari cari ranting kayu yang berserakan di atas tanah ini dan kemudian mengumpulkannya jadi satu , sekejap kemudian bang Fajri langsung membakarnya hingga tercipta kobaran api yang cukup besar.
Fajr : “ ayo bakar semua iwaknya ! “
Renggo : “ iwak haruannya bahadulu unda bakar “
Ikan ikan itu ditusuk ranting dan langsung dibakar di atas kobaran api yang menyala nyala , ketika sudah matang kami menyantapnya sambil duduk bercengkrama , di saat seperti ini baru terasa petualangan yang sesungguhnya dimana kami serasa menyatu dengan alam yang begitu indah ini , apalagi matahari semakin tenggelam dan langit yang berwarna jingga tampak begitu mempesona untuk dipandangi.
Renggo : “ nih kopinya , habis makan ikan ya ngopi lah enaknya “
Me : “ ha.. ha.. enjoy banget kalo kayak gini bang “
Renggo : “ ya jelas enjoy vig , lu di jakarta kalo ngopi di starbuck doang kan ? “
Me : “ itu buat gaya doang bang , biar gak dibilang ndeso “
Renggo : “ ha.. ha.. “
Dengan santai kami menikmati indah suasana senja sambil mereguk kopi yang dituang ke dalam gelas plastik , sungguh tak sia sia aku jauh jauh datang kemari dan menikmati semua yang tersaji di sini , aku jadi merasa dekat lagi dengan alam setelah sekian lama aku terjebak dalam rimba belantara Jakarta , dimana senja terhalang oleh gedung gedung yang menjulang dengan angkuhnya.
12 Des 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar